Berbagai macam permasalahan intoleransi antarumat Islam bermunculan, melalui pendidikan inklusif, siswa diajarkan untuk memahami dan menghargai perbedaan. Proses ini membantu membentuk sikap toleransi yang penting dalam kehidupan bermasyarakat.
Gontor yang didirikan dengan prinsip inklusif sejak tahun 1926, di mana santrinya berasal dari berbagai latar belakang daerah, sosial, ekonomi, dan budaya dapat belajar bersama. Namun demikian, Gontor dapat menciptakan suasana yang harmonis dan saling menghargai, serta membentuk sikap toleransi santri.
Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) berkomitmen untuk menjadi lembaga pendidikan yang tidak hanya fokus pada aspek akademis, tetapi juga pada pembentukan karakter inklusif dan akhlak santri. Sehingga dapat berkontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa.
Dengan latar belakang tersebut, penelitian Dr Syarifah ini bertujuan untuk mendeskripsikan, menganalisis, dan memberikan interpretasi tentang desain pendidikan inklusif, proses pendidikan inklusif, dan model pendidikan inklusif dalam membentuk sikap toleransi di Pondok Gontor.
Berdasarkan hasil penelitian, analisis, dan pembahasan dalam disertasi dengan nilai ujian terbuka A yang diuji langsung oleh Prof Dr H Maskuri MSi (Penguji merangkap Promotor) dan Prof H Junaidi Mistar MPd PhD (Ketua Sidang sekaligus Co-Promotor) itu, maka dapat dirangkum sebagai berikut:
Pertama, desain pendidikan inklusif didukung dengan perencanaan kurikulum yang matang berupa menjabarkan GBPP menjadi Analisis Mata Pelajaran (AMP), memiliki kalender akademik dengan menyusun Program Tahunan (Prota), menyusun Program Catur Semester (Prosem), Program Satuan Pelajaran (PSP), dan Rencana Pengajaran (RP). Lalu dilanjutkan dengan pengorganisasian kurikulum melalui pembagian jadwal, tugas mengajar, dan ekstrakurikuler, dan dilaksanaan dalam kegiatan kokurikuler, intra-kurikuler dan ekstrakurikuler.
Kemudian dievaluasi secara intens baik evaluasi mingguan, tahunan, setiap akhir kepanitiaan, juga evaluasi penilaian hasil belajar santri dengan menggunakan teknik tes subjektif dan nontes berupa interview atau tes lisan. Lalu dengan hiddent curiculum, sehingga dapat membentuk sikap toleransi di tengah masyarakat yang multikultur.
Kedua, proses implementasi pendidikan inklusif dalam membentuk sikap toleransi terus mengedepankan penanaman karakter inklusif yaitu at-ta’aruf, at-tawassuth, at-tasamuh, at-ta’awun, at-tawazun, as-syura, al-musawa, at-tathawur wa libtikar, at-tarahum (saling mencintai), maka dapat membentuk karakter toleran di tengah masyarakat yang multikultur. Sehingga pesantren akan mampu membentuk santri dengan karakter inklusif, toleran, adaptif, dan dapat diterima oleh masyarakat luas, serta berperan aktif dalam memperkuat harmoni sosial dan solidaritas di tengah keragaman masyarakat yang plural.
Ketiga, model pendidikan inklusif dalam membentuk sikap toleransi di Pondok Gontor terus berkembang dan berinovasi dengan mengunakan Model Penugasan, Model Discovery Learning, Model Active Learning, Pendekatan Konstruktivisme, Pendekatan Project Based Learning, Pendekatan Kolaboratif, dan Model KH Imam Zarkasyi. “Dengan mengadaptasikan nilai-nilai inklusif pada lingkungan, maka pesantren tidak hanya mampu membentuk sikap toleransi santri, namun juga mampu menciptakan miliu yang rukun, aman, dan damai,” ulas Dr Syarifah, dosen yang kerap menjadi narasumber di berbagai seminar ilmiah itu.
Berdasarkan pemaparan di atas, maka terdapat tiga proposisi yang dapat Dr Syarifah rangkum sebagai temuan dari penelitian ini:
Pertama, jika desain pendidikan inklusif dalam membentuk sikap toleransi didukung dengan perencanaan kurikulum yang matang, dilanjutkan dengan pengorganisasian kurikulum dan dilaksanaan dalam kegiatan kokurikuler, intra-kurikuler, dan ekstrakurikuler, dievaluasi secara intens, dikolaborasikan dengan hiddent curiculum, maka dapat membentuk sikap toleransi di tengah masyarakat yang multikultur.
Kedua, jika proses implementasi pendidikan inklusif dalam membentuk sikap toleransi terus mengedepankan penanaman karakter inklusif yaitu at-ta’aruf, at-tawassuth, at-tasamuh, at-ta’awun, at-tawazun, as-syura, al-musawa, at-tathawur wa libtikar, at-tarahum (saling mencintai), maka dapat membentuk karakter toleran di tengah masyarakat yang multikultur.
Ketiga, jika model pendidikan inklusif dalam membentuk sikap toleransi terus berkembang dan berinovasi dengan mengunakan Model Penugasan, Model Discovery Learning, Model Active Learning, Pendekatan Konstruktivisme, Pendekatan Project Based Learning, Pendekatan Kolaboratif, dan Model KH Imam Zarkasyi, maka dapat membentuk karakter toleran di tengah masyarakat yang multikultur.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dijelaskan di atas, Pondok Modern Darussalam Gontor memiliki potensi besar dalam membentuk sikap toleransi melalui pendidikan inklusif. Berikut beberapa saran yang dapat diimplementasikan untuk meningkatkan efektivitas pendidikan inklusif dalam konteks ini:
Satu, penguatan kurikulum inklusif dengan mengintegrasikan nilai-nilai toleransi dan inklusivitas secara lebih mendalam pada kurikulum. Materi pembelajaran harus mencakup berbagai perspektif agama dan budaya, serta menekankan pentingnya saling menghormati.
Dua, pelatihan untuk pendidik tentang metode pengajaran inklusif dan cara membangun sikap toleransi di kelas. Sehingga pendidik dapat lebih efektif menciptakan lingkungan belajar yang mendukung dialog terbuka dan saling menghargai antar santri.
Tiga, kegiatan dialog dan diskusi yang lebih intens antarsantri yang melibatkan berbagai latar belakang agama dan budaya. Tujuannya untuk membahas isu-isu keagamaan dan sosial secara konstruktif, guna membantu santri mendengarkan dan memahami pandangan orang lain.
Empat, program kegiatan sosial santri dengan melibatkan komunitas yang beragam. Dengan begitu santri dapat berinteraksi langsung dengan individu dari latar belakang yang berbeda, sehingga memperkuat rasa empati dan toleransi.
Lima, penerapan teknologi dalam pembelajaran untuk menciptakan platform pembelajaran yang inklusif. Misalnya, menggunakan aplikasi atau media sosial untuk berbagi pengalaman dan perspektif tentang toleransi agar santri bisa belajar dari satu sama lain di luar batasan fisik. Enam, evaluasi dan umpan balik yang baik agar dapat terus meningkatkan pendekatan pendidikan inklusifnya.
Dengan menerapkan saran-saran ini, Pondok Gontor dapat lebih efektif dalam membentuk sikap toleransi di kalangan santri melalui pendidikan inklusif. “Ini akan membantu menciptakan lingkungan yang harmonis dan saling menghargai, yang sangat penting dalam masyarakat yang beragam,” tutup alumnus Gontor Putri tahun 2005 tersebut. [Edithya Miranti]
Biodata Peneliti
Nama Lengkap : Dr Syarifah MPdI
Tempat Tanggal Lahir : Ponorogo, 18 Januari 1987
Riwayat Pendidikan :
- Pondok Modern Darussalam Gontor, tahun 2005.
- Sarjana dari Institut Studi Islam Darussalam (ISID), tahun 2009.
- Magister Manajemen Pendidikan dari Universitas Sunan Kalijaga, tahun 2012.
- Doktor Pendidikan Bidang Studi Pendidikan Islam, Universitas Islam Malang, tahun 2025.
Aktivitas :
- Kaprodi Magister Pendidikan Agama Islam (PAI) UNIDA Gontor.
- Anggota dan Pengurus Forum Fakultas Pendidikan dan Sains (FPS) dan PAI Koperasi Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta (Kopertais) wilayah VII Jawa Timur (2023-2026).
- Pegiat Jurnal Ilmiah (Editor dan Reviewer).
- Presenter di beberapa konferensi nasional dan internasional.






















