Jakarta, Gontornews — Jelang hari pahlawan yaitu pada 10 November 2020, Majalah Gontor melalui program Majelis Virtual ke-5 dengan mengangkat tema “Santri Indonesia; Meneladani Pahlawan, Mengabdi untuk Negeri” dengan Keynote Speaker Dr Hamid Fahmy Zarkasyi MPhil (Wakil Rektor UNIDA Gontor), Al-Ustadz Bachtiar Nasir, Lc MM (Da’i, Pimpinan AQL Islamic Center).
Narasumber lain adalah Ahmad Fuadi (Penulis dan Jurnalis), Mayor PNB. Rahmat Syaputra (TNI, Pilot Pesawat Kepresidenan RI), H. Munif At-Tamimi, M.PHIL (Pengusaha Travel), Abdul hamid, SHI (Pengacara), H. Abdul Ghofur Mas’ud (Bupati Penajam Paser Utara), Dr. Taniem Nawawi (Dokter Tim Satgas Covid 19) dengan host Pimpinan Redaksi Majalah Gontor.
Menurut Dr Hamid Fahmy Zarkasyi MPhil sebagai institusi pendidikan agama Islam, pesantren ikut berperan merebut kemerdekaan RI dari tangan penjajah. Pada masa kemerdekaan, kontribusi pesantren pun tidak surut.
Para santri mempunyai etos nasionalisme melawan penjajahan dan anti terhadap penjajahan dan mendorong kemerdekaan. “Kita harus mengatakan santri adalah pahlawan meskipun matinya tidak di makamkan di makam pahlawan,” ungkapnya.
Ustadz Hamid mengatakan, keberadaan pesantren tradisional saat ini mengalami kemunduran, banyak pesantren tradisional yang tidak menggunakan kitab kuning lagi dalam pengajaran, hal ini disebabkan karena banyak kiai yang kurang menguasai menguasai kitab kuning, banyak santri yang membaca kitab-kitab sudah tidak banyak, sementara sistem pendidikan tsanawiyah dan aliyah.
“Akhirnya mereka membuat sekolah-sekolah di samping pesantren, itu pun tidak mengangkat minat santri belajar kitab kuning secara khusus sampai menguasai kitab. Kondisi ini menggerus semangat anak-anak belajar kitab kuning,” paparnya.
Ustadz Hamid menjelaskan, di Gontor sebenarnya bukan tidak belajar kitab, tapi teknik metode mempelajari kitab itu mendahulukan penguasaan bahasa Arab sebelum membaca kitab. “Di akhir kelas enam santri dituntut untuk bisa membaca kitab,” jelasnya.
Pondok Gontor merupakan sistem pesantren baru yang sebelumnya tidak ada. Pendidikan holistik yang mengajarkan ilmu-ilmu, tapi ada sistem pendidikan kelas, artinya mentalitas santri, karakter, etos kerja, leadersip dititipkan di pondok.
Alumni Gontor mempunyai lintas profesi, mereka bisa berperan dalam berbagai bidang kehidupan tapi tetap komit dengan kesantriannya. Inilah hebatnya strategi pendidikan. Ke depan para alumni yang tersebar dalam berbagai bidang sangat positif, tapi ke depan harus membangun jaringan.
“Yang diperlukan sekarang alumni menjalin kerjasama dan menghasilkan network yang tidak hanya regional tapi internasional. Kita ditantang oleh Bank Indonesia, agar santri membuat holding yang bisa memperkuat ekonomi nasional sehingga tidak bisa dikuasai asing,” jelasnya. [Fathur]


















