Alexandria, Gontornews – Foto-foto mengejutkan yang menunjukkan tubuh hangus seorang ayah dan anak perempuan yang tewas dalam serangan rudal Houthi di kota Marib, Yaman tengah, telah memicu kemarahan di dalam dan luar negeri di tengah seruan untuk “membalas dan mempermalukan” milisi atas serangan brutalnya terhadap warga sipil.
Gadis berusia lima tahun itu termasuk di antara sedikitnya 21 orang yang tewas ketika sebuah rudal balistik yang ditembakkan oleh Houthi menghantam sebuah stasiun bahan bakar di distrik padat penduduk di Marib pada hari Sabtu, kantor berita Saba melaporkan seperti dirilis Arabnews.com.
Seorang sumber medis menyebutkan, anak lain, Hassan Al-Hubaishi (10), juga tewas dalam serangan itu, dan beberapa orang lainnya terluka.
Serangan itu terjadi ketika lusinan mobil sedang antre mengisi bahan bakar, kata saksi.
Gadis itu, yang diidentifikasi sebagai Lian Taher, berada di dalam mobil ayahnya di luar stasiun ketika rudal menghantam.
Relawan yang bergegas ke tempat kejadian menjadi sasaran drone bermuatan bahan peledak yang ditembakkan oleh Houthi, menyebabkan banyak warga sipil menjadi korban tewas.
Setelah video anak dan ayahnya yang hangus tersebar luas di media sosial, aktivis hak asasi manusia Yaman, pejabat pemerintah dan diplomat Barat mengutuk keras serangan Houthi dan menuntut milisi dihukum karena menargetkan warga sipil di Marib.
Gubernur Marib Sultan Al-Arada memperingatkan bahwa serangan rudal dan pesawat tak berawak Houthi mengancam puluhan ribu orang terlantar yang tinggal di kota, dan mendesak organisasi lokal dan internasional untuk mengecam serangan itu.
“Otoritas lokal menyerukan kepada semua orang Yaman dari seluruh spektrum politik dan sosial untuk bersatu menghadapi terorisme milisi Houthi, yang telah dan masih menjadi penyebab sebagian besar tragedi kemanusiaan di Yaman,” katanya.
Ali Al-Lahabi, anggota parlemen Yaman, menuduh Houthi melanggar norma-norma agama dan suku yang melarang penargetan warga sipil.
“Kejahatan hari ini terhadap warga sipil dan anak-anak di Marib melanggar norma kesukuan di Yaman dan semua norma kemanusiaan Arab dan internasional,” katanya dalam sebuah posting Twitter.
Sementara itu Abdul Malik Al-Mekhlafi, penasihat Presiden Yaman Abed Rabbo Mansour Hadi, mendesak mereka yang percaya Houthi dapat bekerjasama dalam upaya perdamaian untuk mengubah pikiran mereka.
“Serangan itu sekali lagi menegaskan wajah buruk Houthi, yang telah menolak semua upaya internasional untuk menghentikan perang,” kata Al-Mekhlafi di Twitter.
Di lapangan, komandan tentara Yaman yang memerangi Houthi di Marib dan Hodeidah mengatakan bahwa serangan mematikan oleh milisi akan berlanjut sampai dukungan militer dan keuangan dari Iran berakhir.
“Kejahatan perang tidak akan berhenti kecuali rezim Iran dihalangi, dan Houthi yang membunuh anak-anak dan wanita dibawa ke Pengadilan Kriminal Internasional,” tandas Sadeq Dewaid, juru bicara Pasukan Perlawanan Nasional di provinsi barat Hodeidah.
Utusan Barat untuk Yaman juga menyuarakan kesedihan dan kemarahan mereka atas kematian warga sipil. Mereka menuntut Houthi berhenti menyerang warga sipil dan terlibat dengan proposal perdamaian yang ditengahi PBB.
Kedutaan Besar AS di Yaman menggambarkan serangan rudal dan pesawat tak berawak Houthi di Marib sebagai “kekerasan yang tidak manusiawi.”
Cathy Westley, kuasa usaha kedutaan, mengatakan dalam sebuah pernyataan: “Kami ngeri dengan laporan bahwa Houthi menggunakan rudal balistik untuk menghancurkan sebuah pompa bensin di Marib, membunuh dan melukai warga sipil. Houthi dilaporkan kemudian menggunakan pesawat tak berawak untuk menyerang kru ambulans yang datang untuk membantu yang terluka. Kekerasan tidak manusiawi ini harus diakhiri.”
Sedangkan Utusan Inggris untuk Yaman, Michael Aron, mengatakan di Twitter bahwa dia terkejut dengan laporan serangan itu. Ia menambahkan bahwa hanya gencatan senjata nasional yang akan mengakhiri korban jiwa.
“Houthi harus menghentikan serangan terhadap Marib dan terlibat secara serius dengan PBB. Kesepakatan tentang gencatan senjata nasional akan mencegah kerugian tragis seperti itu dan memungkinkan tindakan kemanusiaan,” katanya.
Pejabat dan pakar Yaman memperingatkan bahwa serangan milisi dapat menghancurkan upaya diplomatik internasional yang intensif untuk mengakhiri perang. []





















