Jakarta, Gontornews — Konfrensi Internasional yang bertajuk “International Conference on University Community Enggagement (Icon-UCE) 2020” akan dihadiri sejumlah akademisi dari berbagai negara. Acara ini akan berlangsung di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon. Hal ini sesuai dengan pernyataan Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Arskal Salim.
“Icon-UCE 2020 akan mengukur sejauhmana dampak program-program perberdayaan itu terhadap peningkatan kapasitas di masyarakat secara nyata,” papar Arskal dalam pertemuan koordinasi penyelenggaraan Icon-UCE, di kantor Kementerian Agama, Jakarta, Selasa (10/03).
Ajang ini juga akan mendiseminasikan hasil-hasil pengabdian masyarakat yang dilakukan PTKI kepada para pemangku kepentingan.
“Sejumlah pendekatan dalam kegiatan pengabdian masyarakatpun akan didiskusikan dalam event tersebut, sehingga pada gilirannya terdapat keterkaitan yang erat antara proses pendidikan, penelitian, dan pengabdian di perguruan tinggi kita,” lanjutnya.
Kepala Subdit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Suwendi, menyatakan Icon-UCE 2020 di IAIN Cirebon ini merupakan event kali keempat.
“Icon-UCE pertama tahun 2014 di UIN Alauddin Makassar. Disusul tahun 2016 di UIN Sunan Ampel Surabaya, dan tahun 2018 di UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang,” ungkap Suwendi.
Dia berharap Icon-UCE tahun ini akan melahirkan terobosan akademik dalam penguatan pemberdayaan masyarakat di kampus. Pada aspek penguatan metodologi misalnya, metodologi pemberdayaan masyarakat itu memiliki varian yang sangat banyak; ada PAR (Participatory Action Research), CBR (Community Based Research), ABCD (Asset Based Community Development), Service Learning dan lain-lain.
Beberapa metode pemberdayaan itu belum menjadi disiplin pengetahuan yang diajarkan secara khusus di lingkungan PTKI. Sementara program pemberdayaan masyarakat dan praktik Kuliah Kerja Nyata sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat setiap tahun bahkan setiap semester selalu diselenggarakan. Hal ini perlu didiskusikan, dimatangkan, dan diberikan catatan kritis bagaimana metodologi pemberdayaan ini didiseminasikan kepada mahasiswa dan dosen di lingkungan perguruan tinggi.
“Jika sebelum riset kita diwajibkan untuk menguasai metodologi risetnya, maka sebelum turun melakukan program pemberdayaan masyarakat dan KKN, maka perlu diberikan pengetahuan metodologi pemberdayaan masyarakat secara memadai,” jelas doktor lulusan UIN Jakarta.
Icon-UCE rencananya diselenggarakan pada pertengahan Juni 2020. Para akademisi dan aktivis pemberdayaan masyarakat dari dalam dan luar negeri akan diundang dalam kegiatan ini, termasuk di antaranya melalui call for paper terseleksi.





















