Jakarta, Gontornews — Organisasi para dai di Indonesia, Ikatan Dai Indonesia (IKADI) sangat menyayangkan pernyataan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas yang menyamakan suara adzan dengan gonggongan anjing.
Ketua Umum IKADI, Dr KH Ahmad Kusyairi Suhail, MA., mengatakan, dalam ilmu ushul fiqh, qiyas (penyamaan) semacam ini dikenal dengan qiyas ma’al faariq, yaitu qiyas/penyamaan yang tidak benar perbandingannya karena jelas keduanya tidak sama.
Dahulu, kata Kiai Kusyairi, pernah heboh ada yang meng-qiyas-kan cadar dengan konde dalam hal cantik atau adzan dengan kidung dalam hal merdu. “Ini jelas qiyas yang batil,” tegas Kiai Kusyairi dalam pernyataan teertulisnya, Kamis (24/02).
Kiai Kusyairi kemudian menjelaskan, dalam Islam adzan bukan sekadar suara atau seni yang mementingkan kemerduan. Adzan adalah ibadah, suara mulia memanggil kaum Muslimin untuk shalat dan sebagai pertanda masuk waktu shalat. “Jelas, berbeda sekali dengan suara gonggongan anjing,” tambahnya.
Ia lalu mengingatkan dengan sebuah hadits shahih, bahwa Rasulullah SAW menjelaskan keutamaan adzan yang dapat mengusir setan. Dari Abu Hurairah RA, dia berkata bahwa Nabi SAW bersabda:
“Apabila adzan dikumandangkan, setan berpaling sambil kentut hingga dia tidak mendengar adzan tersebut. Apabila adzan selesai dikumandangkan, dia pun kembali. Apabila dikumandangkan iqamah, setan pun berpaling lagi. Apabila iqamah selesai dikumandangkan, setan pun kembali, dia akan melintas di antara seseorang dan nafsunya. Dia berkata, ‘Ingatlah demikian, ingatlah demikian untuk sesuatu yang sebelumnya dia tidak mengingatnya, hingga laki-laki tersebut senantiasa tidak mengetahui berapa rakaat dia shalat. Apabila salah seorang dari kalian tidak mengetahui berapa rakaat dia shalat, hendaklah dia bersujud dua kali dalam keadaan duduk.” (HR. Bukhari, No. 608 dan Muslim, no.389).
Lebih lanjut, Ketua Pengurus Harian YAPIDH Bekasi ini mengatakan, hampir 77 tahun Indonesia merdeka, tidak pernah ada yang meributkan dan mempermasalahkan spiker masjid dan suara adzan. Kehidupan masyarakat harmonis, guyup dan rukun.
Ia menyarankan sebaiknya energi bangsa dikerahkan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan umat dan bangsa yang kompleks dan jelas ada di depan mata. Minyak goreng yang langka, harga sebagian kebutuhan bahan pokok yang melonjak, pandemi yang masih mengintai dan lain-lain.
Kiai Kusyairi berharap, para pejabat publik untuk lebih hati-hati dalam membuat pernyataan dan tidak menimbulkan kegaduhan-kegaduhan baru agar umat bisa hidup tenteram, damai dan harmonis.
“Apalagi tidak lama lagi umat Islam akan memasuki bulan suci Ramadhan, diperlukan ucapan, tindakan dan kebijakan yang dapat menyejukkan hati dan mengundang barakah Ilahi,” pungkasnya. [Fath]


















