Mengikuti secara seksama dinamika global terkait serangan Israel-AS atas Iran yang telah dan akan membawa dampak negatif terhadap geopolitik dan geoekonomi dunia, Indonesia dituntut segera melakukan reorientasi politik luar negeri dan keterlibatannya dalam Board of Peace (BoP). Serangan Israel-Amerika Serikat tidak dapat dipisah dari sentimen keagamaan antara Yahudi-Islam, maka Presiden Indonesia perlu berhati-hati bersikap dan mengambil keputusan
Sikap Presiden Prabowo Subianto untuk bergabung dalam BoP dan condong kepada Amerika Serikat jelas melanggar sikap sejati Indonesia yang bebas aktif dan Non-Blok, dan berpihak kepada Palestina (BoP jelas berpihak kepada Israel, bukan kepada Palestina, dan pada saat yang sama tidak berpihak kepada kepentingan Dunia Islam).
Karena itu saatnya Indonesia keluar dari BoP dan konsisten berjuang bagi Kemerdekaan Palestina. Serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran jelas merugikan Palestina dan hanya menguntungkan Israel, serta potensial memporakporandakan Dunia Islam.
Presiden Prabowo Subianto perlu banyak mendengar aspirasi rakyat (pertemuan-pertemuan yang diadakannya dengan para tokoh masyarakat/umat jangan monologis tapi perlu dialogis, dan perlu mendengar suara kritis).
Para ruhaniawan dan cendekiawan perlu bersikap loyal-kritis, menggalang kebersamaan, mendukung pemerintah jika benar, tapi jangan ragu-ragu mengkritik jika salah. Pemerintah perlu mendengar suara kritis, jangan terlena dan terbuai dengan keadaan. Perkembangan global akan membawa dampak buruk bagi Indonesia.
Saatnya Pemerintah menerapkan program darurat (contigency plan): hentikan program boros dana dan tidak urgen seperti MBG, lakukan penghematan serius, ciptakan komunikasi politik dialogis, dan konsolidasikan para pembantu Presiden untuk memiliki sense of crisis (kesadaran akan krisis). []





















