Indramayu, Gontornewssia – Baru-baru ini, pemerintah menetapkan Kabupaten Indramayu sebagai proyek percontohan digitalisasi di bidang pertanian. “Melalui program digitalisasi ini, kami berharap proses pendataan menjadi terpusat, kesejahteraan petani pun kian meningkat,” papar Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno di Indramayu (10/3).
Dalam peluncuran program tersebut di Desa Mundu, Kecamatan Karangampel, Kabupaten Indramayu, Rini mengakui bahwa tingkat kemiskinan di Kabupaten Indramayu tergolong tinggi. “Kemiskinan masih tinggi, padahal luasan lahan persawahan di Indramayu mencapai 11.800 hektare. Ini seharusnya bisa menyejahterakan masyarakat sekitar. Maka petani ini harus didukung untuk meningkatkan kualitas hasil panen. Dengan demikian, pendapatan pun akan meningkat,” ujar Rini.
Rini optimistis program digitalisasi akan berdampak positif bagi kesejahteraan petani. Pasalnya dalam pilot project tersebut, setiap kegiatan petani akan dipantau, mulai dari pratanam hingga pascapanen. Sejumlah BUMN di berbagai bidang pun ikut terlibat dalam program digitalisasi ini. Beberapa diantaranya adalah Jasindo dalam kepasitasnya mengurusi asuransi pratanam, BRI terkait aspek permodalan, dan Bulog untuk menjamin pascapanen.
Wilayah Indramayu memang memiliki luas lahan sawah yang cukup besar. Lahan-lahan tersebut dilindungi Perda lahan abadi, sehingga alih fungsi lahan pertanian dapat dicegah. “Saat ini 10 persen luas total persawahan di Jawa Barat berasal dari Kabupaten Indramayu,” papar Bupati Indramayu Anna Sophana






















