Kampar, Gontornews — Masa bakti siswi akhir Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) di OPPM (Organisasi Pelajar Pondok Modern) dan KGP (Koordinator Gerakan Pramuka) akan segera berakhir. Estafet tanggung jawab sudah mulai diamanatkan kepada adik-adik kelas mereka. Salah satunya adalah tugas menjadi ketua Bindep (Pembina Gugus Depan).
“Seluruh anggota pramuka Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Putri Kampus 7 berkumpul sesuai Gudep (Gugus Depan) masing-masing. Gudep 1 berkumpul di depan Gedung Yordania, gudep 2 di depan Gedung Palestina, gudep 3 di lapangan basket, gudep 4 di depan Gedung Baru 1, gudep 5 di depan Gedung Baru 3, dan gudep 6 di depan Gedung Baru 5,” papar Ustadzah Nee, guru KMI di Gontor Putri 7, Kamis (26/12).
Siang itu mereka berkumpul guna memilih calon bunda. Bunda adalah julukan Bindep. Tiap gudep mencalonkan 5 orang yang akan dipilih oleh anggotanya. Nama-nama yang terpilih nantinya akan diajukan kepada Wakil Pengasuh untuk diseleksi dan dinilai lebih ketat.
Mereka yang terpilih dari masing-masing gudep adalah Syakira Salsabila (5C-Gudep 1), Della Septiana (5F-Gudep 2), Piona Safni (5C-Gudep 3), Azizah La Safitri (5D-Gudep 4), Adilla Wildayani (5C-Gudep 5), dan Laila Nova (5B-Gudep 6).
Panggilan Sayang Itu adalah Bunda
Bunda, begitu para adika-adika gugus depan (gudep) memanggil ketua Pembina Gugus Depan (Bindep). Sosoknya, merupakan implementasi dari seorang ibu. Bunda-lah yang mencurahkan lebih banyak fikiran dan tenaga untuk perkembangan gudepnya. Di pundaknya tanggung jawab besar atas kemajuan gudep dan para adika-adikanya.
Bunda yang mengatur rapinya administrasi yang berjalan di gudepnya. Mulai dari keuangan, surat menyurat, sampai dengan barang-barang inventaris gudep. Bunda juga yang gigih membina dan mengawal kader-kader di gudepnya, agar lahir bunda hebat yang akan meneruskan perjuangannya dalam memajukan dan menyejahterakan para adika-adika di gudepnya.
Bunda layaknya single parent. Ia dituntut untuk bisa bertindak tegas namun penyayang, gigih, cekatan, kreatif, dan lihai mengayomi para adika dan rekan pembina lainnya. Jika terjadi pertikaian di antara adikanya atau di antara rekan pembina, bunda harus mahir melerai dan menengahi serta mengambil keputusan bijak untuk mengurai konflik. Karena itulah, anggota gudep memanggilnya bunda. [Farouq]























