Dubai, Gontornews — Iran telah menolak permintaan Presiden Perancis Emmanuel Macron untuk pembicaraan mengenai program rudal balistik Teheran. Iran mengatakan kesepakatan nuklir yang ditandatangani dengan kekuatan dunia pada 2015 “tidak dapat dinegosiasikan”.
Macron, saat berkunjung ke Dubai pada hari Kamis, mengatakan bahwa dia “sangat prihatin” dengan program rudal Teheran setelah Arab Saudi mengklaim telah mencegat sebuah rudal yang ditembakkan dari Yaman bulan lalu.
Mengacu pada klaim Saudi, Presiden Prancis telah menyatakan kemungkinan sanksi terkait dengan aktivitas tersebut.
Jurubicara Kementerian Luar Negeri Iran Bahram Qassemi mengatakan, program rudalnya bersifat defensif dan tidak terkait dengan kesepakatan nuklir yang membatasi aktivitas nuklir Iran dengan imbalan penghapusan sanksi.
“Prancis sepenuhnya menyadari posisi tegas negara kami bahwa urusan pertahanan Iran tidak dapat dinegosiasikan,” kata Qassemi, yang mengesampingkan kemungkinan adanya perundingan.
“Kami telah mengatakan kepada pejabat Prancis berulang kali bahwa kesepakatan nuklir tidak dapat dinegosiasikan dan masalah lainnya tidak akan diizinkan untuk ditambahkan,” kata Qassemi dalam sebuah pernyataan di situs kementerian pada hari Ahad (12/11).
Prancis telah berusaha menyelamatkan kesepakatan nuklir yang ditandatangani Iran dengan enam kekuatan dunia – Inggris, Cina, Jerman, Prancis, Rusia dan Amerika Serikat.
Bulan lalu, Macron mengatakan kepada Presiden Iran Hassan Rouhani melalui telepon bahwa Prancis tetap berkomitmen pada kesepakatan tersebut namun menekankan perlunya melakukan dialog dengan Iran mengenai isu-isu strategis lainnya, termasuk program rudal balistik Teheran, sebuah proposal yang dikesampingkan oleh Iran.
AS mengatakan rudal yang ditembakkan ke Arab Saudi dipasok oleh Iran. Washington juga meminta PBB untuk meminta pertanggungjawaban Teheran karena telah melanggar dua resolusi Dewan Keamanan PBB. [Rusdiono Mukri]





















