Tokyo, Gontornews — Pemerintah Jepang mengevakuasi 65 orang warganya dari Wuhan, Cina, Senin (17/2) akibat penyebaran virus korona yang menewaskan lebih dari 1.700 orang. Penerbangan kelima yang membawa 65 warga negara Jepang telah tiba di Tokyo. Dengan demikian, jumlah warga yang dievakuasi dari Cina mencapai 763 orang.
Sebagaimana diketahui, Jepang menjadi negara paling terdampak penularan virus korona. Lebih dari 400 kasus di Jepang terkonfirmasi. Mayoritas kasus virus korona di Jepang didominasi penumpang kapal pesiar Diamond Princess yang bersandar di Yokohama beberapa waktu lalu.
Selain mempercepat evakuasi warga dari Wuhan, virus korona di Jepang juga mengakibatkan sebuah rumah sakit di Sagamihara, 50 km dari Tokyo, menangguhkan pasien baru. Reuters menjelaskan langkah ini dilakukan setelah sebelumnya seorang perawat tertular virus mematikan itu pasca merawat pasien korona sebelum akhirnya meninggal.
Tidak hanya itu, Pemerintah Jepang juga menyebut virus korona merusak pemasukan negara dari sektor pariwisata, merusak pertumbuhan ekonomi dan berpotensi mendorong negara ke dalam resesi.
Perhelatan Tokyo Marathon juga terancam dibatalkan. Panitia perhelatan akbar di cabang maraton terbesar di dunia tersebut mempertimbangkan untuk membatasi jumlah peserta sebagai tindakan pencegahan. Meski demikian, belum ada konfirmasi lebih lanjut dari pihak Tokyo Marathon.
Pembatasan tersebut berpotensi membuat 300.000 peserta maraton terancam batal ikut serta. Akibatnya, pembatal itu bedampak negatif pada perhelatan olahraga berkelas internasional di Jepang.
Jepang juga terpaksa menunda babak kualifikasi FIBA Cup 2021 antara Cina-Jepang yang direncanakan di Chiba, Tokyo, akhir pekan ini.
Pun dengan sejumlah perusahaan Jepang yang menghimbau karyawannya untuk tidak berangkat ke kantor. Para karyawan dihimbau untuk bekerja dari rumah demi mengurangi risiko penularan virus korona.
Perusahaan Jepang, Nippon Telegraph dan Telephone Corp misalnya, mendesak sekitar 200.000 karyawan untuk bekerja dari rumah atau membatalkan perjalanan mereka.
Senada dengan dua perusahaan diatas, perusahaan NTT Data Corp bahkan memerintahkan 14 pekerjanya untuk bekerja dari rumah. Terutama setelah salah seorang karyawannya positif tertular virus korona pada Jum’at (14/2). [Mohamad Deny Irawan]



















