Berlin, Gontornews — Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock mengecam keras referendum di wilayah Ukraina yang diduduki Rusia.
Baerbock mengatakan “orang-orang dibawa keluar dari rumah mereka atau dari pekerjaan mereka” dengan todongan senjata “untuk memberikan suara di kotak suara kaca.”
“Ini kebalikan dari pemilihan umum yang bebas dan adil,” tambahnya dirilis dw.com.
Baerbock menuduh Rusia ingin menegakkan “perdamaian yang didiktekan.”
Namun, selama pendudukan Rusia di wilayah itu berlanjut, warga di sana tidak aman atau bebas, kata menteri itu.
Dia juga membenarkan pengiriman senjata berat ke Ukraina. Ini berkontribusi pada “Ukraina mampu melindungi kehidupan warganya.”
Pada hari Rabu, Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy via telepon bahwa Jerman tidak akan pernah mengakui hasil pemungutan suara aneksasi yang diselenggarakan Moskow di wilayah yang diduduki Rusia di Ukraina.
Sementara itu, Perdana Menteri Italia Mario Draghi juga mengatakan bahwa Italia tidak akan mengakui hasil referendum aneksasi “ilegal”. Kantor pemimpin Italia mengatakan Draghi telah berbicara dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk meyakinkannya tentang “dukungan berkelanjutan” Roma untuk Kyiv.[]






















