Kabul, Gontornews — Kehidupan sehari-hari di Kabul tampak berubah setelah Taliban mengambil alih pemerintahan di Afghanistan pada tingkat yang lebih cepat daripada yang diperkirakan para pejabat Barat.
Arabnews.com melansir, gaya berpakaian anak muda di Kabul telah berubah. Sekarang semua orang mengenakan pakaian tradisional. Kerumunan terus menghiasi jalan-jalan dan pasar di ibukota Afghanistan itu sepanjang hari.
Namun, keheningan mulai menyergap jalanan saat senja tiba. Restoran dan kios penjual makanan lokal tutup pukul 9 malam. Sebelum Taliban berkuasa mereka tutup pukul 11 malam.
Sebagian besar wanita mulai mengenakan burqa saat pergi keluar rumah. Sementara yang lain keluar rumah dengan rambut tertutup hanya dengan syal/kerudung.
Kafe dan tempat pertunjukan musik tempat muda mudi biasa berkumpul bersama ditutup segera setelah Taliban berkuasa. Banyak tempat, terutama restoran Italia, telah tutup dan karyawannya telah meninggalkan negara itu.
Menjadi tempat paling populer di kota, restoran Turki terus melayani pelanggannya, meskipun karyawan Turki telah dievakuasi ke Turki dengan kedatangan Taliban.
Meskipun aturan ketat dalam kehidupan sosial belum terlihat, setelah penutupan kafe dan bar serta konservasi kebijakan penyiaran saluran televisi, satu-satunya pilihan hiburan bagi kaum muda di negara yang dilanda perang itu ialah kriket, warisan kolonialisme Inggris.
Atol Alim (21), yang bermain kriket di wilayah Nadir Pashtun, mengatakan kriket merupakan satu-satunya hiburan bagi kaum muda di kota itu.
“Tidak ada yang mengatakan apa-apa tentang kami bermain kriket sekarang, saya tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya,” kata Alim.
Kekhawatiran juga dirasakan Nabi Zainullah yang berusia 22 tahun: “Orang-orang muda tidak memiliki banyak hal untuk dilakukan di sini, semua orang ingin meninggalkan negara ini. Kami sedikit lebih nyaman pada awalnya, sekarang kami tidak tahu apa yang akan terjadi.”
Hampir ada kekacauan di lembaga-lembaga resmi karena Taliban belum menentukan administrasi dan mantan pejabat eksekutif telah meninggalkan negara itu.
Sementara itu tampak antrean panjang mereka yang ingin menarik uang dari bank.
Rumah sakit terus melayani, tetapi jumlah pekerja tidak mencukupi karena banyak dokter dan tenaga kesehatan telah meninggalkan negara itu.
Kekurangan obat di negara ini mengkhawatirkan, dan para profesional kesehatan sedang menunggu solusi untuk masalah ini.[]





















Memang butuh waktu bagi Taliban untuk menunjukkan sikap2 politiknya, karena perpindahan kekuasaan tidak dilakukan proses penyerahan.
Membangun fondasi bagi Afganistan ke depan, tidak bisa cepat secepat perubahan yang diinginkan warga. Taliban belum punya pengalaman memerintah masyarakat yang heterogen. Tetapi Taliban bisa belajar cepat kepada praktek pemerintahan yang ada.
Di lain pihak Taliban harus bisa mengajak warga yang awal skeptis untuk melihat Afganistan ke depan. Hal ini tidak mudah, karena gangguan luar dan dalam negeri yang tentu menghendaki Taliban besar yang mengusung ideologi Islam. Tentu isu yang tidak umum dalam tatanan dunia yang saat ini, yang banyak diwarnai oleh dominasi barat dengan ideologinya yang berhadap hadapan dengan ideologi Islam.