Jakarta, Gontornews — Dalam rangka mengembangkan perekonomian umat, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menjalin kemitraan dengan salah satu startup unicorn di Indonesia Bukalapak. Hal tersebut dilakukan melalui penandatangan MoU antara Nahdlatul Ulama dengan Bukalapak pada acara Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar NU 2019 di Ponpes Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, Kota Banjar, Rabu (27/2) malam.
Dikatakan VP of Product Bukalapak, Zakka Fauzan Muhammad, tujuan dilakukannya kerjasama Bukalapak dan NU adalah untuk mengembangkan usaha kecil menengah di kalangan warga NU atau Nahdliyin supaya mampu bersaing menghadapi revolusi industri 4.0.
“Ekonomi grassroot di Nahdliyin kita sama-sama dorong supaya go digital. Dengan kolaborasi ini, NU akan membentuk marketplace sendiri. NU akan punya white label sendiri,β ucap Zakka, usai penandatangan MoU bersama Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj seperti dilansir NU Online.
Pada pembukaan Munas-Konbes NU 2019 Ketua Umum PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siradj juga menyoal tantangan revolusi industri 4.0 yang harus dihadapi warga NU. Menurutnya, masyarakat Indonesia, khususnya warga NU, harus siap menghadapi revolusi industri 4.0, yang bertumpu pada penggunaan massif teknologi informasi berbasis internet, artificial intelegence (kecerdasan buatan) dan analisis big data.
Selain itu, kata Kiai Said, sektor pertanian merupakan penyumbang PDB terbesar kedua di Indonesia. Dimana 82 persen masyarakat Indonesia bergantung pada sektor pertanian, akan tetapi 30 persen dari jumlah tersebut merupakan petani tradisional. “Yang terseok-seok di tengah gelombang revolusi industri 4.0. Para Petani kita masih sangat ketinggalan,β katanya.
Bukan hanya Ketum PBNU, Rais βAam PBNU KH Miftachul Akhyar juga menyinggung tantangan NU di era digital. Menurutnya, menuju usia satu abad NU perlu menyiapkan 4G, yaitu grand idea, grand design, grand strategy, dan grand control. “Ini PR (pekerjaan rumah) NU yang perlu dirumuskan dalam Munas-Konbes saat ini. Sebab jika tidak dikelola dengan baik, kita jadi bulan-bulanan yang diperebutkan oleh orang lain,β ungkapnya. [Muhammad Khaerul Muttaqien]






















