Jakarta, Gontornews — Di tengah kondisi saat ini, umat Islam harus melakukan upaya perbaikan-perbaikan. Adalah al muhafadzah alal qadimis shalih (menjaga yang lama yang baik) wal akhdzu biljadidil ashlah (mengambil yang baru yang lebih baik). Demikian kata Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin di Bogor beberapa waktu lalu.
Kendati demikian, dua hal tersebut kata Kiai Ma’ruf, kurang inovatif, kurang kreatif, dan kurang dinamis. Karena itu ditambah satu lagi yaitu al Ishlah lana huwal ashlah (melakukan perbaikan kepada yang lebih baik). Bukan hanya menjaga, bukan hanya mengambil, tapi melakukan. “Karena yang ashlah itu tidak permanen, tidak statis. Hari ini ashlah besok tidak. Besok ashlah lusa tidak. Maka itu perbaikannya harus terus menerus, harus berkelanjutan,” jelasnya.
Apa yang harus kita perbaiki? “Ekonominya, pendidikannya, sumberdaya manusianya. Supaya apa? Supaya umat Islam itu tidak menjadi adh-dhuafa wal mustadhafin. Allah sudah mengingatkan kepada kita wal yakhsyal ladzina law taraku min khalfihim dzurriyyatan dhiafan. Karena itu kita harus melakukan al Ishlah illa maa huwal ashlah tsummal ashlah tsummal ashlah, wal ashlah. Kunci ini harus kita bangun supaya dinamis, supaya inovatif,” imbuhnya.
Aksi damai 411 dan 212 telah berlangsung damai dengan jutaan massa umat Islam Indonesia. Menilik aksi tersebut, dikutip ekonomisyariah.org, pengamat ekonomi syariah M Gunawan Yasni menilai, saat ini adalah waktu yang tepat untuk menampilkan Islam yang modern dalam ekonomi. Ini untuk menangkap animo besar umat Islam yang ingin menarik dana-dananya dari bank konvensional dan membuka rekening bank syariah terutama pasca aksi 411, 212, dan berikutnya.
Apalagi Masterplan Arsitektur Keuangan Syariah Indonesia telah resmi diluncurkan pada Juli 2016. Dalam rangka memfasilitasi pertumbuhan perbankan syariah, masterplan tersebut di antaranya memuat sejumlah pendekatan untuk mendorong industri nonribawi tersebut. Salah satunya dengan menerapkan konversi beberapa BUMN bank konvensional (dengan atau tanpa Unit Usaha Syariah) menjadi bank syariah penuh.
Menangkap animo besar masyarakat Muslim yang ada saat ini, kata Gunawan, saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengonversi satu bank BUMN konvensional menjadi bank syariah. Bank BUMN seperti BTN perlu diupayakan untuk dikonversi menjadi bank BUMN syariah. Konversi BTN menjadi bank syariah penuh perlu diupayakan karena memungkinkan untuk dikonversi. “Namun, kita harus upayakan konversi BTN full ke syariah. Bank BUMN sangat mudah dan mungkin dikonversi ke syariah,” katanya.
Ia mencontohkan seperti KPR dan pembiayaan konstruksinya dengan bunga yang nyaris tetap juga sangat mudah untuk di-murabahah-kan. Agar wacana bank BUMN syariah terealisasi pemerintah melalui Kementerian BUMN, sebagai pemegang saham utama, perlu terus didorong. Namun, kata dia, yang perlu didorong adalah pemegang saham utama BTN dan pengurus BTN mulai dari direksi, komisaris dan officernya. [M Khaerul Muttaqien/Rus]




















