Reyhanli, Gontornews — Usai melalui proses serah terima pada Mei lalu, 10 kontainer beras langsung dikirim ke pintu perbatasan Bab Al-Awa, perbatasan Turki dan Suriah. Pendistribusian ini terus berlangsung secara berkala.
Berbuat kebaikan sesungguhnya tidak terbatas tempat dan waktu. Di mana ada niat membantu, di sanalah terbuka jalan untuk melakukannya. Berapa lama pun kebaikan itu mewujud, pasti akan menemui mereka yang membutuhkan.
Tengok saja Kapal Kemanusiaan Suriah, yang telah melayarkan bantuan beras kepada saudara kita, para pengungsi Suriah, di Turki. Dari Pelabuhan Belawan pada 21 April 2018, kapal melintasi 5.509 mil laut hingga sampai di Pelabuhan Assan, Kota Iskenderun, Provinsi Hatay, Turki, pada 21 Mei 2018. Tiga puluh hari dilewati penuh cerita, demi mengantarkan 1.000 ton beras untuk saudara Muslim teraniaya.
Andi Noor Faradiba dari Global Humanity Response (GHR) ACT menyampaikan, wilayah distribusi terbagi menjadi dua, yakni perbatasan Turki-Suriah dan Suriah.
“Kami distribusikan 500 ton ke sejumlah daerah di Suriah seperti Aleppo, Hama, dan Idlib. Lalu 500 ton lagi kami bagikan ke komunitas pengungsi di sepanjang perbatasan Suriah dan Turki,” terang Faradiba. Seperti dilansir dari laman ACT.
Hampir tiga bulan berlalu. Kini, hampir semua beras tersebut telah mencapai tangan para pengungsi Suriah. Beras dari rakyat Indonesia dinikmati oleh pengungsi Suriah yang berada di Idlib, Aleppo, dan Hama. Tak terkecuali mereka yang bertenda di sepanjang perbatasan Suriah-Turki seperti Kilis dan Hatay.
“Kalau ditotal, ada 35.000 keluarga atau sekitar 195.000 jiwa di Suriah, dan 20.000 keluarga atau sekitar 120.000 jiwa di tapal batas Turki-Suriah, yang merasakan manfaat beras persembahan masyarakat Indonesia ini,” imbuh Faradiba.
Manfaat itu terlihat dari sejumlah titik pengungsian di perbatasan Turki-Suriah. Seperti di dapur sebuah rumah rehabilitasi untuk korban perang Suriah di Reyhanli, Turki. Uap mengepul dari sebuah panci mendidih, sementara seorang koki menuangkan beras yang sudah ditakar ke dalamnya. Tidak lupa ditambahkan potongan sayuran dan juga bumbu lainnya. Diaduk hingga kekuningan, dan jadilah nasi turki.
Satu per satu pengungsi kemudian mengambil nampan, dan mengantre selagi petugas dapur membagikan mereka makanan. Mulai dari anak-anak, pemuda, hingga lansia. Semua menunggu keberkahan nasi gurih yang bergizi itu.
Para penghuni rumah rehabilitasi tidak akan menjadi pengungsi terakhir yang menerima beras Indonesia. Insya Allah, beras akan terus didistribusikan ke lebih banyak tempat. Diperkirakan beras terakhir akan diberikan pada 15 Agustus 2018 nanti. [ACT]





















