Surabaya, Gontornews — Rombongan Program Kaderisasi Ulama (PKU) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor Angkatan XIII bersilaturahim mengunjungi Al-Ustadz Prof. Roem Rowi, salah satu ulama tafsir dan ulumul Qur’an terkemuka di Indonesia. Acara yang berlangsung pada hari Kamis (5/12), bertempat di kantor pusat Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Al-Hikmah Surabaya, rombongan PKU disambut langsung oleh Prof. Roem selaku salah satu pembina YLPI Al- Hikmah, bersama dengan Ustadz Bambang selaku koordinator alumni YLPI Al Hikmah, dan juga seorang ustadz bagian administrasi umum YLPI Al Hikmah.
Acara diawali dengan pemutaran video profil yayasan, dilanjutkan penyampaian sambutan dari perwakilan PKU Gontor yang diwakili Ustadz Nofriyanto, S.Pd.I, M.Ag. Setelah perkenalan dari masing-masing peserta PKU, dimulailah penyampaian materi inti.
Prof. Roem mengawali pembicaraan dengan menjelaskan pengertian ulama. Dalam bahasa Arab ulama bermakna ilmuwan, itulah kenapa di Mesir Neil Armstrong, astronot yang pertama mendarat di Bulan, disebut sebagai ulama. Namun di Indonesia istilah ulama seringkali dipersempit maknanya pada ilmuwan agama.
Salah satu karakteristik ulama adalah ketakutannya pada Allah. Hal ini terlihat jelas dalam kisah Nabi Musa AS ketika melawan para penyihir. Saat Nabi Musa AS melemparkan tongkatnya kemudian menjadi ular, para ahli sihir seketika menyatakan diri masuk Islam. Mereka bisa bertaubat semudah itu karena keahliannya pada ilmu sihir memungkinkan mereka untuk membedakan sihir dan mukjizat. Keimanan mereka lekas hadir karena ketakutan mereka pada Allah SWT.
“Kalau ulama (ahli ilmu) sihir saja takut pada Allah, kenapa zaman sekarang para ulama (agama) justru melenceng dan tidak takut Allah? Kan aneh!,” Tanya Prof. Roem.
Ketidaktakutan tersebut misalnya bagaimana para ulama (orang berilmu) mengesampingkan Al-Qur’an sebagai sumber ilmu atau solusi segala permasalahan hidup. Padahal menurut Prof. Roem seharusnya Al-Qur’an adalah segalanya bagi muslim.
Ibarat profesi kita adalah pengusaha, mitra bisnis terbaik kita adalah Allah SWT yang tidak pernah ingkar dari perjanjian (niaga) yang telah dituliskan-Nya. Untuk menyukseskan perniagaan tersebut, kita memerlukan Al-Qur’an sebagai buku panduan yang memberikan informasi kepada manusia.
Setiap informasi yang ada, sekecil apapun, penting diperhatikan untuk melaksanakan “perniagaan” dengan baik. Masalahnya, terdapat orang-orang berilmu yang secara sengaja “salah baca” sehingga informasi tersebut menimbulkan kebingungan di kalangan umat. Mereka ini biasa kita kenal sebagai ulama yang fasik, atau bahkan ulama su’ (buruk).
Prof. Roem mengakhiri sesi dengan menyampaikan harapan beliau terhadap para peserta PKU agar dapat menjadi generasi penerus ulama yang benar, yang benar-benar menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan, dengan pembacaan yang sesuai dengan petunjuk-Nya. Amin ya Rabbal alamin.[Esty Dyah Imaniar]



















