Jakarta, Gontornews — Direktur Eksekutif Pusat Pengkajian Komunikasi dan Media (P2KM) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Deden Mauli Darajat, menjelaskan maraknya berita ujaran kebencian dan berita hoaks di media sosial akibat kurangnya pemahaman masyarakat tentang literasi digital.
Deden menjelaskan kurangnya pemahaman tentang literasi digital juga membuat masyarakat menjadi tidak bijak dalam merespons atau menyampaikan pendapat, opini maupun gagasan.
“Kekurangan pemahaman tentang literasi digital inilah yang kemudian membuat masih maraknya hate speech dan hoaks. Kita, misalnya bertanggungjawab untuk meningkatkan lingkungan di sekitar kita untuk mengurangi hate speech dan hoaks,” katanya sebagaimana dilansir Antara.
“(Kurangnya pemahaman literasi digital membuat masyarakat) mudah berpendapat atau memviralkan opini negatif yang menimbulkan polemik antar anak bangsa,” sambungnya.
Pada sisi sebaliknya, kecakapan tetang literasi digital dapat mendorong masyarakat untuk bijak dalam mengakses, mengolah atau menyebarkan informasi di media sosialnya. Kecakapan itu pula dapat membangun iklim demokrasi ang positif, terutama jelang perhelatan pemilihan umum 2024 mendatang.
“Kedewasaan kita dalam berdemokrasi di ruang digital memang sangat diperlukan. Apalagi di tahun-tahun politik yang biasa terkesan sensitif,” ucap alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor tersebut.
Program kampanye digital, jelasnya, bisa dilakukan oleh semua pihak yang pedpeduli tentang demokrasi yang sehat. Ia pun mengingatkan, meski pemerintah menjamin kebebasan berpendapat, masyarakat juga harus mampu memilih dan memilah kata ke ranah publik.
“Banyak masyarakat yang belum dapat membedakan antara kritik, nyinyir, hujatan dan hujatan kebencian yang rentan memecah belah masyarakat karena sejatinya tidak ada kebebasan dalam menyebarkan kebencian, hasutan, fitnah atas nama demokrasi,” tutupnya. [Mohamad Deny Irawan]



















