Beirut, Gontornews — Para pemrotes di Lebanon yang dilanda krisis bentrok dengan pasukan keamanan di Beirut, sehari setelah demonstran marah dengan pembatasan penarikan dolar. Mereka menyerang kantor-kantor bank dengan besi, alat pemadam kebakaran, dan batu.
Ratusan orang yang berkumpul lagi di luar bank sentral pada Rabu malam, pindah ke kantor polisi tempat lebih dari 50 orang masih ditahan menyusul bentrokan antara demonstran dan pasukan keamanan malam sebelumnya.
Pada hari Selasa dan Rabu, polisi dengan pentungan dan gas air mata melukai dan menangkap lusinan pengunjuk rasa ketika mereka menyalakan api dan merusak kantor bank dan ATM.
“Dua malam terakhir ini, mereka [polisi] benar-benar biadab,” kata Cynthia Sleiman, seorang pekerja amal dan pengunjuk rasa yang terluka di rumah sakit setelah bentrokan.
“Saya baru saja tiba dan sedang mencari teman-teman saya ketika polisi menangkap saya, memukul kepala dan leher saya. Saya jatuh ke tanah dan darah mengalir keluar,” katanya dikutip Aljazeera.
Para pengunjuk rasa meneriakkan slogan-slogan dan menuntut pembebasan kawan-kawan mereka sebelum pasukan keamanan menembakkan gas air mata untuk membubarkan mereka.
Empat bulan aksi protes antipemerintah Lebanon yang sebagian besar berlangsung damai, yang menyebabkan pengunduran diri pemerintah pada akhir Oktober, para demonstran telah mengalihkan kemarahannya kepada bank-bank, yang berupaya mencegah terjadinya krisis likuiditas.
Kini Lebanon terjebak dalam krisis ekonomi terburuk sejak perang saudara 1975-1990.
Pengunjuk rasa Yumna Mroue (22), mengatakan kebijakan keuangan bank sentral telah merugikan para penabung kecil selama bertahun-tahun.
“Kami jatuh bebas sekarang. Apa yang terjadi semalam berasal dari rasa sakit dan kemarahan yang sesungguhnya,” katanya kepada kantor berita AFP.
“Orang-orang menuntut pemerintah yang akan menyelamatkan ekonomi. Tapi apa yang telah dilakukan para politisi? Mereka justru bertengkar sendiri untuk memperebutkan kursi di kabinet berikutnya.” []





















