Misrata, Gontornews — Pemerintah Libya mengonfirmasi kasus pertama COVID-19, Selasa (24/3). Konflik berkepanjangan di Libya membuat sistem pelayanan kesehatan di Libya menjadi sangat rentan.
Pusat pengendalian penyakit nasional di Libya tidak memberikan rincian terkait pernyataan mengenai COVID-19. Namun, dokter yang menangani pasien tersebut mengatakan bahwa pasien berada di sebuah rumah sakit di Tripoli, Ibukota Libya.
Dalam menyikapi kondisi ini, pemerintah yang diakui secara internasional di Tripoli maupun pemerintah tandingan di Benghazi memberlakukan lockdown. Kedua belah pihak memberlakukan penghentian sejumlah perjalanan asing seraya menjanjikan sumber daya untuk pelayanan kesehatan.
“Ini adalah sistem kesehatan yang hampir runtuh sebelum anda terpapar COVID-19,” kata Kepala Misi WHO di Libya, Elizabeth Hoff, sebagiamana dilansir Reuters.
Terbatasnya peralatan pengujian, alat pelindung hingga kurangnya tenaga medis, terutama di daerah pedesaan, membuat sistem pelayanan kesehatan di Libya rentan. “Rencana nasional tersedia. Tetapi pendanaan belum dapat dialokasikan,” tambah Hoff.
Komite yang bertugas untuk memerangi penyakti ini melarang perpindahan pasien antara kota dan daerah hingga pemberitahuan lebih lanjut. Namun, sejak pelabuhan minyak di Libya Timur diblokade, sebagian besar pendapatan negara yang masuk ke Bank Sentral Libya di Tripoli hilang. Akibatnya, gajian semua pejabat lembaga negara serta pekerja publik di seluruh negeri terdampak.
Seorang dokter di sebuah pusat medis di Tripoli bahkan mengaku belum menerima gaji sejak tahun lalu.
Sebuah bank sentral yang dibangun oleh pemerintah tandingan di Benghazi mengklaim bahwa gaji para pekerja publik akan segera dipenuhi. Namun, seorang dokter mengaku tidak ada gaji yang masuk ke rekeningnya.
Beberapa petugas medis di Benghazi bahkan menolak untuk bekerja di rumah sakit karena minimnya gaji dan ketiadaan peralatan pelindung yang memadai.
Sementara di wilayah Misrata, sejumlah pasukan dari pemerintah yang diakui secara internasional di Tripoli, petugas pertamanan, menyemprotkan cairan disinfektan di sebuah taman.
Pun dengan para sukarelawan yang membagikan masker dan sarung tangan kala mereka memasuki bank. Mereka juga menghimbau masyarakat untuk melakukan jarak sosial atau social distancing.
“Jika kita duduk dan tidak melakukan apa-apa dan hanya menunggu pemerintah, maka kita tidak akan mendapatkan hasil apapun,” pungkas relawan berusia 55 tahun, Taher Alzarooq. [Mohamad Deny Irawan]





















