Mekkah, Gontornews — Liga Muslim Dunia (LMD), Robithotul ‘Ālam Al-Islami, Kamis (29/06/2023), mengutuk aksi pembakaran Al-Qur’an di Stockholm, Swedia. Mereka menganggap aksi tersebut keji dan provokatif terhadap umat Islam, terutama saat umat Muslim di dunia sedang merayakan Hari Raya Idul Adha 1444 Hijriyah.
“Liga Muslim Dunia dengan mengutuk kejahatan pembakaran Al-Qur’an di Ibukota Swedia, Stockholm, sebagai aksi keji dan provaktif terhadp perasaan umat Islam, terutama pada momen hari raya Idul Adha yang mulia,” ungkap pernyataan Liga Islam Dunia dalam akun Twitter, @mwlorg_id.
Sekretaris Jenderal LMD, Mohammed bin Abdulkarim Al-Issa, mengecam tindakan tidak masuk akal nan keji berdalih kebebasan berekspresi tersebut. “Padahal sebenarnya, tindakan ini menghina dan melanggar konsep sejati dan bijak tentang kebebasan yang menekanka pernghormatan terhadap yang suci dan tidak memprovokasi perasaan dengan alasan apapun,” kata Al-Issa.
“Kami sekali lagi memperingatkan tentang bahaya praktik-praktik yang mendorong kebencin dan memprovokasi perasaan keagamaan, yang hanya melayani agenda ekstremisme,” sambungnya.
Seorang warga berkebangsaan Iraq, Rabu (28/06/2023), Salwan Momika, membakar Al-Qur’an di luar sebuah masjid di ibu kota Swedia, Stockholm. Sebelum melakukan pembakaran kita suci umat Islam tersebut, Momika melemparkan Al-Qur’an ke tanah, membakar dan melontarkan kata-kata yang menghina Islam.
Aksi provokasi ini terjadi bertepatan dengan peringatan hari raya Idul Adha 1444 Hijriyah di seluruh dunia. Celakanya, kegiatan keji ini mendapatkan persetujuan dari pihak kepolisian dengan dalih kebebasan berekspresi.
“Ini demokrasi. (Demokrasi kita) dalam bahaya jika mereka memberi tahu bahwa kami tidak bisa melakukan ini,” ungkap Momika sebagaimana dilansir Arab News.
Perdana Menteri Swedia, Ulf Kristersson, mengatakan bahwa pihaknya tidak bisa menghalangi pihak kepolisian untuk memberikan izin pada aksi demonstrasi tersebut. Namun, Kristersson mengingatkan bahwa demonstrasi semacam itu tidak pantas dan berpotensi merugikan kebijakan luar negeri jangka panjang Swedia.
“(Demonstrasi) itu legal tapi tidak pantas,” kata Krsitersson kepada Reuters.
“Saya yakin, kita hidup di masa dimana orang harus tetap tenag dan memikirkan apa yang terbaik untuk kepentingan jangka panjang Swedia,” sambungnya. [Mohamad Deny Irawan]



















