Petaling Jaya, Gontornews – Wakil Presiden Asosiasi Cina Malaysia (Malaysian Chinese Association/MCA), Wee Ka Siong mendesak Pemerintah Malaysia untuk membentuk sebuah komisi bertajuk Royal Comission of Inquiry (RCI) sebagai upaya penyelesaian skandal 1Malaysia Development Berhad (1MDB), Selasa (11/9).
Pernyataan Wee ini disampaikan setelah Pemerintah Singapura memutuskan untuk mengembalikan dana sekitar 46 juta Ringgit Malaysia atau sekitar 164 miliar rupiah (Kurs RM 1= Rp 3.579,65) yang diduga terkait dengan kasus pencucian uang 1MDB.
Sementara itu, mantan PM Malaysia, Najib Razak juga menolak tuduhan masuknya miliaran dolar AS di rekeningnya terlibat dengan skandal 1MDB melainkan merupakan pemberian dari keluarga kerajaan Saudi.
“Daripada membuat spekuasi, ini adalah waktu yang tepat dan adil bagi rakyat untuk menyelesaikan masalah ini secara terbuka, bebas dari kepentingan politik, transparan serta mempelajari kebenaran tentang apa yang terjadi tentang skandal 1MDB,” kata Wee sebagaimana dilansir The Malaysian Insight.
“Transaksi yang terjadi di akun Najib, sebagaimana diklaim oleh Departemen Kehakiman AS (DOJ) merupakan pemberian dari ‘Saudi Assicates 1 & 2’. Namun menurut DOJ, uang itu berasal dari penyalahgunaan dana dari 1MDB,” tambah Wee.
Wee meminta kepada pemerintah untuk menjawab apa saja kaitan antara laporan wall street journal yang menuduh Low Taek Jho atau Jho Low sebagai aktor di balik skandal 1MDB, pejabat PetroSaudi International, Perusahaan Invesasi Minyak Internasional, serta Aabar Investments PJS.
“Apakah pemerintah menyerukan kepada orang asing sebagai pihak yang harus ditanyai atau meminta pihak penerima ekstradisi untuk diadili di sini juga?” kata Wee
“Bagaimana status dan kemajuan penyelesaian kesepakatan antara Malaysia dengan Pemerintah Abu Dhabi yang terkait erat dengan setiap sen yang hilang akibat skandal 1MDB?” tambah Wee.
Sebagaimana diketahui, salah satu janji politik Partai Pakatan Harapan adalah menyipkan RCI sebagai langkah penyelesaian skandal 1MDB yang mengguncang Malaysia tersebut. [Mohamad Deny Irawan]


















