Kuala Lumpur, Gontornews — Badan PBB untuk urusan pengungsi, UNHCR, bekerjasama dengan tokoh masyarakat Rohingya di Malaysia tengah melakukan pencarian komunitas Rohingya yang mengikuti pertemuan komunitas jama’ah tabligh di Kuala Lumpur, Malaysia. Pencarian ini dilakukan guna mendorong para peserta pertemuan itu untuk melakukan cek kesehatan COVID-19 di Malaysia tanpa takut ditangkap.
Sejauh ini, lebih dari 670 kasus COVID-19 terkonfirmasi dari sebuah masjid di pinggiran ibu kota Malaysia. Konon sebuah pertemuan yang melibatkan 16.000 orang dari seluruh negara hadir dalam pertemuan empat hari tersebut.
Otoritas setempat berusaha melacak 2000 etnis Rohingya yang menghadiri pertemuan tersebut. Sejumlah kelompok hak asasi manusia internasional mengonfirmasi ada beberapa ratus etnis Rohingya yang hadir dalam pertemuan itu.
“Kami telah meningkatkan kesadaran dan menyarankan etnis Rohingya untuk menjalani tes (COVID-19),” ungkap tokoh masyarakat Rohingya di Malaysia, Bo Min Naing, kepada Channel News Asia.
Bo Min Naing mengirim pesan kepada masyarakat Rohingya yang mengikuti pertemuan itu untuk menjalani tes medis.
Sementara itu, UNHCR mengatakan bahwa pihaknya mendesak agar pemerintah tidak menangkap para pengungsi atau pencari suaka tak berdokumen dari kalangan Rohingya. Sejauh ini, polisi belum menanggapi informasi itu.
UNHCR juga menghimbau kepada para tokoh masyarakat Rohingya agar mendesak warganya untuk menghubungi otoritas kesehatan setempat tanpa takut ditangkap. Sekitar 4.000 dari 14.500 warga Malaysia yang hadir dalam pertemuan tersebut telah menjalani tes COVID-19, Kamis (19/3).
“Seperti yang dapat anda bayangkan, mengingat sistem perawatan kesehatan membludak, kami belum dapat menerima informasi tentang pengungsi dan pencari suaka yang terinfeksi atau yang telah melakukan pengujian,” kata perwakilan UNHCR di Malaysia.
Sejauh ini, Malaysia mengonfirmasi 900 kasus COVID-19 dengan 576 kasus terkonfirmasi berasal dari acara tersebut. [Mohamad Deny Irawan]





















