Rabat, Gontornews — Maroko mengatakan pada hari Rabu (22/12) bahwa pihaknya mengharapkan kembalinya kerjasama dan hubungan diplomatik dengan Jerman setelah Berlin menyatakan dukungannya atas rencana otonomi Rabat untuk wilayah Sahara Barat yang disengketakan.
Arabnews.com melansir, Maroko telah memanggil duta besarnya untuk Jerman pada bulan Mei sebagai protes atas apa yang digambarkannya sebagai “aktivisme antagonis” Berlin setelah Amerika Serikat pada Desember 2020 mengakui kedaulatan Maroko atas wilayah tersebut, yang juga diklaim oleh gerakan Front Polisario yang didukung Aljazair.
Pada bulan Maret, Maroko memerintahkan semua departemen dan badan-badan pemerintah untuk tidak melakukan kerjasama dan kontak dengan kedutaan Jerman dan organisasi politik Jerman.
Tapi pekan lalu, situasi diplomatik membaik setelah Kementerian Luar Negeri Jerman mengeluarkan pernyataan yang menggambarkan rencana otonomi Maroko sebagai “kontribusi penting” untuk menemukan solusi politik konflik Sahara Barat, sejalan dengan resolusi Dewan Keamanan PBB.
Kementerian Luar Negeri Maroko mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya menyambut baik “pernyataan positif … yang menjadi pertanda baik untuk dimulainya kembali kerjasama bilateral dan kembalinya misi diplomatik kedua negara di Berlin dan Rabat.”
Maroko telah dengan tegas mendorong negara-negara Eropa dan Uni Eropa untuk mengikuti sikap Amerika Serikat di Sahara Barat. Raja Mohammed bulan lalu mengatakan, Maroko tidak akan menyetujui “langkah ekonomi atau komersial apa pun yang mengecualikan Sahara Maroko.”[]






















