Ada kelompok menamakan diri feminis muslim. Tetapi meski memakai identitas muslim ternyata menabrak tradisi Islam. Ketika berbicara fiqih, bukan ushul fiqih landasannya. Tetapi humanisme. Mereka mengaku berdalil fiqih. Ya, “fikih yang telah dibongkar”. Maka, jadinya bukan fikih. Humanisme itu lah tepatnya.
Sesungguhnya ini gegabah menggunakan istilah. Tapi biasanya mereka berlindung di balik rancunya suatu istilah. Sesungguhnya ada ketakutan/kekhawatiran dalam diri aktivis feminis muslim. Takut dikira tak sesuai Islam. Memang area ‘permainannya’ adalah hukum Islam (fikih). Akhirnya kekhawatiran itu terbukti.
Sudah mestinya, jadi aktivis feminis itu percaya diri. Jangan separo-separo. Percaya diri bahwa ide feminism itu western banget. Jika membaca sejarah peradaban Barat, akan tahu. Persoalannya, karakter aktivis ini tidak mau tahu [apakah mau tempe?]. Tetapi yang tepat, tidak tahu malu.
Ada lagi istilah profetik feminism. Apa lagi itu? Terminologi kacau. Ya kalau diucapkan, atau ditulis agak keren kata generasi millennial. Tapi jika diblejeti secara linguistik, pasti pada melongo mereka. Kadang suka istilah asing-asing, tapi minim pemahaman lingustisnya.
Jadi yang benar bagaimana? Ya jelas, Islam memulyakan wanita. Menutup aurat itu memulyakan wanita. Bukan mengekang apalagi menghinakan wanita. Sederhana sekali sebenarnya.
Buktikan saja dah. Di bundaran HI Jakarta, ada dua wanita. Satu telanjang bulat, satunya lagi pakaian muslimah jilbab besar. Mana wanita yang waras kira-kira? Jika Anda menjawab wanita yang telanjang, ya Anda bagian dari ketidakwarasan itu.
Banyak kawan lelaki yang mana mereka ini termasuk anak muda yang “slenge’an”, bukan ahli ngaji, tidak pernah nyantri. Kalau lihat wanita bercadar atau jilbab gede menilai dengan hormat. “Anggun tuh wanita, terhormat”, celetuk mereka.
Tentang waris. Besar kecilnya bagian waris TIDAK DITENTUKAN JENIS KELAMIN. Ketentuannya adlh beberapa kondisi terkait ahli waris. Contoh dalam beberapa kondisi bagian wanita lebih besar dr laki2: (1) Perempuan wafat dan ahli warisnya, suami, ayah, ibu, dua anak perempuan dan dua anak laki2. (2) Perempuan (istri) wafat ahli warisnya, suami, ibu dua saudari perempuan. Kajian ini agak panjang. Makanya, belajar fikih waris.
Imam Turmudzi meriwayatkan hadis: Lelaki yang paling baik akhlaknya (ahsanahum khuluqan) adalah mereka yang berbuat baik terhadap istri mereka. Jika masih jomblo, belum punya istri ya terbaik terhadap ibunya. Lelaki yang sudah beristri, masih wajib birrul walidain pada ibunya.
Suatu hari sahabat Nabi Tanya: Ya Rasulullah siapa yang paling berhak aku perlakukan baik. Jawab Nabi: ibumu. Sampai tiga kali (HR. Bukhari).
Cara suami memulyakan istri dengan cara BERSABAR dan LEMAH LEMBUT. Nabi menyuruh lelaki untuk mempergauli istri dengan cara baik. Jika berhubungan jangan seperti binatang. Maafkan mereka jika ada kesalahan remeh temeh.
Lalu kenapa wanita tidak boleh memimpin rumah tangga? Buat apa menuntut berambisi jadi pemimpin? Itu hasutan kaum tidak beriman. Apa sebab? Duduk di kursi pemimpin bukan bukti kemulyaan. Manusia yang dipimpin bukan bukti lebih rendah kedudukannya.
Justru, kalau para wanita mau jujur, mereka suka dan nyaman jika dipimpin. Suka disayang, suka diperlakukan lembut. Lebih nyaman untuk dilindungi. Sedangkan lelaki suka melindungi. Itu fitrah. Jangan bohonglah wahai feminis.
Islam menempatkan manusia sesuai kemampuan.





















