Oleh : Ahmad Sastra, Cendekiawan Muslim
Debat capres putaran kedua segera digelar dan dipertontonkan kepada rakyat. Para pendukung masing-masing capres mulai panas dingin dan ketegangan makin meninggi. Sejauhmana urgensitas debat capres?
Memperdebatkan debat capres pemilu sangat relatif, sebab perdebatan capres seringkali hanya terjebak kepada seremonial, bukan tentang sesuatu yang haq dan batil. Apalagi jika kisi-kisi soal debatnya saja sudah dibocorkan dan justru meributkan pula siapa yang harus menyampaikan visi misi saat debat. Kondisi ini sebenarnya memprihatinkan yang menjadikan negeri ini miskin narasi.
Secara filosofis, debat adalah bertukar dan beradu gagasan sebagai solusi atas permasalahan yang didiskusikan. Gagasan adalah semacam postulat yang mengakar pada sebuah bangunan epistemologi. Karena itu gagasan harus sarat dengan pemahaman masalah dan argumentasi rasional yang mampu mencerdaskan dan mencerahkan. Adalah sebuah kegagalan, jika perdebatan justru mendungukan dan minus solusi. Dalam Islam istilah debat atau diskusi disebut Al Jadal yakni at tahawur (berdsikusi atau berdialog). Al Jadal adalah penyampaian hujjah atau yang diduga sebagai hujjah oleh dua orang yang berbeda pendapat.Tujuan berdebat adalah membela pendapat atau mazhabnya, membatalkan hujjah lawan, dan mengubahnya pada pendapat yang tepat dan benar menurut pandangannya.
Berdebat dalam rangka berdakwah adalah perkara yang diperintahkan syara’ untuk menetapkan kebenaran dan membatalkan kebatilan. Al Qur’an adalah mu’jizat Rasulullah berupa hujjah Allah tentang kebenaran dan kebatilan (postulat). Postulat kebatilan dahulu sering dilontarkan oleh orang-orang kafir, musyrik dan munafik yang langsung mendapat bantahan dari Allah sebagai cara mengalahkan hujjah mereka.
Serulah (manusia) kepada ajalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah (wajadilhum) mereka dengan cara yang baik (QS an Nahl [16] : 125). Katakanlah, “ tunjukkanlah bukti kebenaranmu (burhanakum) jika kamu adalah orang yang benar “. (QS al Baqarah [2] : 111).
Rasulullah pernah mendebat kaum musryik Mekkah, Nasrani Najran, dan Yahudi Madinah. Pengemban dakwah akan selalu menyeru kepada kebaikan (Islam), amar ma’ruf nahi munkar dan memerangi pemikiran yang sesat (isme). Karena berdebat telah ditentukan sebagai uslub (cara) dalam semua aktivitas yang wajib itu, maka berdebat menjadi kewajiban pula. Kaidah : suatu kewajiban yang tidak sempurna (pelaksanaannya) tanpa sesuatu, maka sesuatu itu (hukumnya) wajib.
Meski demikian, diantara perdebatan ada satu jenis perdebatan yang dilarang/dicela secara syar’i, sehingga termasuk bentuk kekufuran, seperti mendebat Allah dan ayat-ayatNya. Dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dialah Tuhan yang maha keras siksaan Nya (QS ar Ra’du [13] : 13). Tidak ada yang memperdabkan ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang kafir (QS Ghafir [40] : 4). Gagasan atau hujjah dalam perdebatan mesti fundamental dan ideologis, bukan sekedar seremonial dan kepura-puraan. Terlebih jika perdebatan itu menyangkut politik dan ketatanegaraan. Sebab semua negara dibangun diatas landasan ideologi paradigmatik, bukan sekedar retorika tanpa makna. Tradisi intelektual ini biasanya akan hilang seiring meningkatnya pragmatisme. Perdebatan harus berujung kepada determinasi yakni kebenaran dan solusi, bukan kompromi dan keraguan. Perdebatan yang dilakukan oleh Rasulullah melalui dakwah intelektual adalah menawarkan ideologi Islam kepada masyarakat Arab yang jahiliah. Sayangnya masyarakat jahiliyah saat itu mayoritas dalam belenggu mitos dan kesyirikan yang irasional. Akibatnya banyak yang menentang gagasan Islam Rasulullah dengan cara-cara yang tidak beradab. Meski banyak juga kaumm intelektual yang menerima gagasan Rasulullah dan masuk Islam.
Perdebatan ideologi dan paradigmatik juga pernah dilakukan oleh Mohammad Natsir melawan Soekarna tentang dasar negara ini. Natsir kontra demokrasi liberal, sementara Soekarno memuja sekulerisme ala Kemal At Taturk. Buku Kapita Selekta M Natsir membuktikan perdebatan bergengsi itu. Keduanya adalah bersahabat, meski berbeda secara fundamental dari sisi pemikirannya.
Sayangnya partai Masyumi dibubarkan rezim orde lama. Pembubaran partai masyumi dalam perspektif diskursus pemikiran merupakan kekalahan intelektual rezim berkuasa saat itu. Semestinya gagasan dilawan dengan gagasan, bukan dengan persekusi. Begitupun pembubaran ormas yang menawarkan Islam ideologi merupakan kekalahan intelektual rezim ini.
Dalam membangun argumen dakwah, Nabi Ibrahim mengedepankan intelektualitas rasional saat menolak penyembahan terhadap patung. Sementara kaumnya saat itu justru tengah terjebak dalam pemikiran dungu akibat mitos dari nenek moyang mereka. Secara rasional, mereka percaya akan argumentasi Musa, namun gengsi dan harga diri (yang sebenarnya tak berharga) telah menutup intelektualitas mereka. Pada akhirnya Ibrahim harus dipersekusi dengan cara dibakar hidup-hidup. Itulah karakter kaum jahiliah.
Begitupun argumentasi Musa melawan fir’aun. Sejak awal Musa telah menggunakan kekuatan logika dalam berdakwah, tapi sayangnya fir’aun menggunakan logika kekuatan (kekuasaan). Fir’aun sendiri hanya berfikir bahwa argumentasi Musa meski benar, namun akan mengancam kekuasaan yang telah dinikmatinya. Apalagi setelah beberapa tukang sihir fir’aun sadar dan menjadi pengikut Musa, maka fir’aun tambah panik. Sebelumnya bahkan fir’aun membunuh semua bayi laki-laki karena dianggap ancaman atas kekuasaan dia. Akhirnya Musa dipersekusi oleh fir’aun dengan kekuatan kekuasaan. Fir’aun kalah secara intelektual berdebat dengan Musa. Mestinya Fir’aun mengakui kekalahannya dan masuk Islam sebagai pengikut Musa. Tapi begitulah karakter rezim jahiliah, menyalahgunakan kekuasaan (abuse of power) untuk memberangus kekuatan kebenaran.
Bagaimana dengan di Indonesia hari ini ?. Apakah kekuasaan demokrasi menghargai kebenaran ideologi Islam. Secara genealogi, demokrasi adalah produk filsafat sekuleristik yang pasti akan menolak Islam politik. Karena itu demokrasi akan terus melawan Islam. Kekuatan gagasan Islam politik ternyata telah meruntuhkan logika demokrasi.
Tapi sayangnya, demokrasi bukannya menyerah dan mengakui kebenaran Islam, tapi justru mempersekusinya. Demokrasi tak ubahnya seperti sistem jahiliah, dimana kekalahan argumentasi tapi diwujudkan dengan persekusi. Inilah paradok demokrasi yang berteriak dengan jargon kebebasan berfikir. Persekusi dakwah ideologi Islam oleh demokrasi adalah bukti kekalahan intelektual.
Begitupun dengan ideologi komunisme yang ateis. Ideologi ini bahkan lebih kejam lagi. Ketika kalah argumentasi, tak segan-segan ideologi ini justru menghabisi para pengemban dakwah Islam. Komunisme sebagai gagasan busuk yang meniadakan eksistensi tuhan adalah gagasan absurd yang sangat lemah. Namun karena diadobsi oleh sebuah negara, maka negara komunis biasanya memberangus para pejuang Islam yang ideologis.
Baik ideologi kapitalisme demokrasi maupun komunisme ateis adalah dua ideologi usang yang lemah secara epistemologi. Gagasan Islam ideologi telah mampu menyadarkan banyak bangsa sepanjang sejarah. Saat inipun kebangkitan Islam makin terasa di seantero dunia. Ideologi kapitalisme dan komunisme kini sedang sekarat dan sebentar lagi akan ambruk.
Nah, tradisi perdebatan ideologis paradigmatik ini harus terus dihidupkan, agar rakyat makin cerdas dan tercerahkan dalam mencari solusi terbaik atas krisis multidimensi negeri ini. Perdebatan harus radikal dan paradigmatis, jika tidak hanya akan menjadi semacam panggung sandiwara semata. Jika demikian, maka perdebatan politik tidak ada gunanya, hanya akan menambah masalah sosial dan negeri ini tidak akan beranjak dari keterpurukan peradaban.
Maka bagi para calon pemimpin negeri ini, berdebatlah secara ideologis paradigmatis. Tunjukkan jati dirimu, apakah berideologi kapitalis sekuler, apakah berideologi komunis ateis dan atau berideologi Islam. Berdiskusilah secara rasional dan argumentatif, jika kalah akuilah, jangan marah dan mempersekusi lawan debat, seperti fir’aun terhadap Musa dan abu jahal terhadap Rasulullah.
Meskipun semestinya ideologi busuk kapitalisme dan komunisme yang jelas batil dan sekarat tak lagi perlu diperdebatkan, tinggal rame-rame kita rubuhkan saja. Sepakat !!!!.





















