Palembang, Gontornews — Palembang memiliki segudang objek wisata yang menarik dikunjungi. Terutama bagi wisatawan yang memiliki minat khusus pada wisata sejarah. Ada banyak museum dan tempat-tempat menarik yang menyuguhkan informasi seputar kekayaan budaya, sejarah, hingga spot instagramable.
Peninggalan-peninggalan sejarah yang ada membuktikan bahwa di Bumi Sriwijaya pernah singgah banyak budaya dan etnis. Nuansa multikultural akan terasa saat Anda melangkahkan kaki di sudut-sudut Kota Palembang. Anda akan melihat bagaimana budaya Melayu berpadu harmonis dengan budaya Tionghoa , serta budaya Arab.
Lokasi Kota Palembang sangat strategis sebagai jalur dagang pada zaman dahulu. Kota yang dijuluki sebagai ‘kota pempek’ ini berada tidak jauh dari pantai dan dilalui oleh sungai besar, yaitu Sungai Musi. Hal itu lah yang menyebabkan banyak pedagang dari Cina dan Arab yang mampir.
Jadi, selain terkenal dengan kelezatan kulinernya , kota ini juga memiliki wisata sejarah yang kaya. Berikut adalah beberapa wisata sejarah yang bisa Anda kunjungi Bersama keluarga saat liburan:
Jembatan Ampera
Jembatan Ampera yang dibangun pada tahun 1962 ini menjadi ikon khas Kota Palembang. Jembatan ampera membentang kokoh dan indah di atas Sungai Musi. Jembatan ini menghubungkan jalan dari wilayah Seberang Ulu ke Seberang Ilir.
Sambil melintas di atas jempatan ampera, anda bisa memandangi keindahan kota Palembang. Anda juga akan dibuat terpesona dengan pemandangan aktivas para nelayan di sungai musi. Sungai sepanjang 750 Km banyak nelayan hilir-mudik mengangkut ikan. Perahu yang terapung dan melaju akan menghiasi perairan sungai musi.
Panjang jembatan ini 1.177 m, lebar 22 m (bagian tengah 71,90 m, berat 944 ton dan dilengkapi pembandul seberat 500 ton), semua bagian tengah bisa diangkat agar kapal-kapal besar bisa lewat namun sejak tahun 1970 bagian tengah sudah tidak dapat diangkat lagi. Bandul pemberatnya pada tahun 1990 dibongkar karena dikhawatirkan dapat membahayakan. Tinggi jembatan ini 11,5 m dari atas permukaan air, tinggi menara 63 m dari permukaan tanah dan jarak antara menara 75 m.
Benteng Kuto Besak
Penjajahan tak hanya menyisakan banyak luka, namun juga bangunan. Salah satu bangunan peninggalan zaman belanda yang ada di Kota Palembang adalah Benteng Kuto Besak (BKB). Bangunan ini bisa membuat kita jadikan monumen atau petilasan bagaimana kakek-nenek kita berjuang dengan gagah berani mengalahkan Belanda.
BKB berdiri tidak jauh dari Sungai Musi. Dari benteng tersebut anda bisa melihat pemandangan kapal-kapal yang berlayar di Sungai Musi. Benteng yang didirikan pada tahun 1780 ini kini telah dikembangkan oleh pemerintah Palembang.
Area sekitar benteng ini telah disulap oleh Pemkot menjadi tempat yang asyik untuk bersantai. Bangku-bangku taman berbaris rapi di alun-alun, yang terletak di depan benteng. Fasilitas di sini juga sangat lengkap.
Museum Sultan Mahmud Badaruddin II
Tak hanya masjid, Nama Sultan Mahmud Badarudin pun diabadikan menjadi nama sebuah museum. Museum SMB terletak bersebelahan dengan BKB. Karena kedekatan, Anda bisa menjadikan dua destinasi sejarah tersebut dalam satu perjalanan perjalanan.
Museum Sultan Mahmud Badarudin menyimpan benda-benda peninggalan zaman Kerajaan Sriwijaya hingga Kesultanan Palembang Darussalam. Anda bisa menyaksikan benda-benda bersejarah yang mencapai ratusan. Museum ini tentu saja menjadi destinasi yang tepat untuk belajar sejarah. Anda bisa menyimpan koleksi etnografi, arkeologi, seni rupa, keramik, biologi, hingga numismatik.
Kampung Arab Al Munawar
Kampung Arab Al Munawar juga terletak di tepi sungai Musi. Anda bisa menikmati wisata sejarah Palembang dengan mengamati bangunan rumah di Kampung Arab Al-Munawar yang sudah berusia ratusan tahun, berbentuk panggung dan terbuat dari kayu ulin, berlantaikan batu marmer yang didatangkan dari Eropa.
Dari sekitar 17 rumah tua yang ada disana, 8 diantaranya merupakan bangunan cagar budaya yang dirawat secara rutin demi mempertahankan kekokohan dan kebersihannya. Rumah-rumah itu masih difungsikan sampai sekarang, baik sebagai tempat tinggal maupun lembaga pendidikan.
Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya
Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya atau sebelumnya dikenal dengan nama Situs Karanganyar adalah taman purbakala bekas kawasan permukiman dan taman yang dikaitkan dengan kerajaan Sriwijaya yang terletak tepi utara Sungai Musi di Kota Palembang.
Di kawasan ini ditemukan jaringan kanal, parit dan kolam yang disusun rapi dan teratur yang memastikan bahwa kawasan ini adalah buatan manusia, sehingga dipercaya bahwa pusat Kerajaan Sriwijaya di Palembang terletak di situs ini.
Di kawasan ini ditemukan banyak peninggalan purbakala yang menunjukkan bahwa kawasan ini pernah menjadi pusat permukiman dan pusat aktivitas manusia.
Masjid Agung Palembang
Budaya Arab atau budaya Islam juga cukup berkembang pesat di Palembang. Masjid Sultan Mahmud Badaruddin II atau yang biasa disebut Masjid Agung Palembang menjadi buktinya. Sultan Mahmud Badaruddin II merupakan tokoh yang cukup berjasa bagi kota ini. Masjid Agung merupakan masjid terbesar di Palembang, bahkan Sumatera Selatan.
Masjid yang dibangun pada tahun 1748 ini memiliki keunikan individual. Jika anda amati, bangunan masjid merupakan perpaduan arsitektur Arab, Tiongkok, dan Eropa. Jika anda ingin melihat keramaian masjid ini, datanglah saat Ramadhan. Di saat tersebut banyak kegiatan dan banyak orang berkumpul di masjid ini.
Masjid Cheng Hoo
Nama Laksamana Cheng Hoo cukup terkenal di beberapa kota di Indonesia. Cheng Hoo merupakan seorang Muslim Tionghoa yang melakukan pelayaran dan menyinggahi beberapa kota di Indonesia, salah satunya Palembang.
Majid Cheng Hoo terletak di Kompleks Perumahan Top Atlit, Keluaran 15 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I. Pembangunan masjid ini diinisiasi oleh lembaga Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Palembang.
Masjid yang mempunyai warna khas hijau – merah tersebut menjadi simbol pluralisme dalam masyarakat Palembang. Masjid bernama lengkap Masjid Al Islam Muhammad Ceng Hoo tersebut dibuat dengan arsitektur yang unik, perpaduan Arab, Melayu, dan Cina. [Fath]



















