Kairo, Gontornews — Menteri Luar Negeri (Menlu) Palestina Riyad al-Maliki mengatakan, warga Palestina tidak dapat lagi menerima AS sebagai perantara dalam proses perdamaian karena sekarang telah memosisikan dirinya sebagai partai dalam sebuah perselisihan dan bukan sebagai penengah.
“Amerika menjadi agresor terhadap orang-orang Palestina dan melawan hukum internasional,” paparnya dikutip Aljazeera.
Ia mengatakan itu kepada wartawan menjelang pertemuan Liga Arab di Kairo, pekan ini.
Al-Maliki meminta Dewan Keamanan PBB untuk melawan keputusan Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.
Status Yerusalem, tempat suci bagi umat Islam, Yahudi dan Kristen, adalah salah satu isu utama konflik Israel-Palestina yang abadi. Setelah menduduki bagian timur kota itu dalam Perang 1967, Israel mencaplok wilayah tersebut, dan memproklamirkannya sebagai “ibukota abadi dan tak terbagi”.
Namun, orang-orang Palestina melihat Yerusalem Timur sebagai ibukota negara masa depan mereka. [Rusdiono Mukri]

















