Rakhine, Gontornews — Muslim Rohingya, Myanmar, banyak yang lari ke negeri tetangga, Bangladesh, minggu ini sebagai upaya menyelamatkan diri. Namun, beberapa di antara mereka dikhawatirkan tewas setelah perahu yang mereka tumpangi tenggelam di sungai selama upaya untuk melarikan diri dari pembantaian. Sedikitnya 86 orang tewas dan sekitar 30 ribu lainnya terlantar sejak meningkatnya kekerasan terhadap mereka.
Al Jazeera melaporkan, beberapa pengungsi Rohingya telah hilang sejak Selasa (22/11) setelah menyeberangi Sungai Naaf yang memisahkan Myanmar dengan Bangladesh. Mereka yang berhasil masuk Bangladesh mencari perlindungan di kamp-kamp pengungsi atau rumah-rumah penduduk.
“Ada sekelompok orang dari desa kami yang menyeberangi sungai dengan perahu untuk datang ke sini, tapi tiba-tiba perahunya tenggelam,” kata Humayun Kabir, ayah dari tiga anak yang hilang sejak kecelakaan itu.
Meskipun banyak dari mereka bisa berenang, dan mampu mencapai tepi sungai, namun tujuh orang masih hilang, termasuk anak-anak Humayun.
Kekerasan yang menimpa Muslim Rohingya di Myanmar belakangan ini merupakan tragedi paling serius sejak ratusan orang tewas dalam bentrokan komunal di negara bagian barat, Rakhine, pada tahun 2012. Tragedi ini menjadi ujian terbesar bagi pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi yang sudah delapan bulan memerintah Myanmar.
Militer dan Pemerintah Myanmar telah menolak tuduhan warga dan kelompok-kelompok hak asasi manusia bahwa tentara Myanmar telah memperkosa wanita Rohingya, membakar rumahnya, dan membunuh warga sipil selama operasi militer di Rakhine. [Rusdiono Mukri]






















