Abuja, Gontornews — Pusat Pengendalian Penyakit Nigeria (NCDC), Selasa (10/8/2021), melaporkan 816 kematian warganya akibat wabah kolera sejak awal tahun 2021. Lebih lanjut, NCDC juga melaporkan 31.425 kasus yang mereka curigai dan tersebar di 22 negara bagian. Dari jumlah tersebut, 311 kasus kolera terkonfirmasi dalam rentang waktu 1 Januari hingga 1 Agustus 2021.
Negara yang terdampak wabah ini antara lain Benue, Delta, Zamfara, Gombe, Bayelsa, Kogi, Sokoto, Bauchi, Kano, Kaduna, Plateau, Kebbi, Cross River, Niver, Nasarawa, Jigawa, Yobe, Kwara, Enugu, Adamawa, Katsina Borno, Federal Capital Territory (FCT).
Badan kesehatan tersebut telah meminta pemerintah baik pusat maupun negara bagian untuk mengambil langkah proaktif untuk memerangi wabah kolera. Mereka menjelaskan wabah tersebut muncul akibat buruknya akses air bersih, kebiasaan buang air sembarangan, buruknya sanitasi dan kebersihan lingkungan.
Sejauh ini, NCDC telah mengaktifkan pusat operasi kedaruratan kolera nasional pada 22 Juni. Melalui badan tersebut, pemerintah telah mengerahkan tim respons cepat guna mendukung negara bagian paling terdampak kolera. Akan tetapi, NCDC meminta pemerintah untuk mendukung kampanye pembuangan sampah pada tempatnya hingga melarang warga untuk buang air besar sembarangan.
“Tidak ada satu pun intervensi medis yang akan menyelesaikan masalah mendasar penyebab wabah kolera,” kata NCDC dalam laporan yang dilansir Anadolu Agency.
“Kolera adalah penyakit yang ditularkan melalui air. Risiko penularan lebih tinggi karena buruknya sanitasi dan terganggunya pasokan air bersih,” sambung laporan tersebut.
Untuk jangka panjang, NCDC meminta pemerintah untuk menyelesaikan masalah pemenuhan air minum layak yang aman serta pemeliharaan sanitasi dan kebersihan yang layak.
“Kami terus mengadvokasi pemerintah negara bagian untuk melakukan tindakan solutif yang memastikan akses dan penggunaan air bersih, sanitasi mendasar, dan praktik kebersihan yang baik di masyarakat.”
“Kolera dapat dicegah dan diobati. Namun, kolera bisa mematikan ketika seseorang terinfeksi dan tidak segera mendapatkan akses perawatan,” tutup NCDC. [Mohamad Deny Irawan]





















