Ankara, Gontornews – Para pengamat mengatakan proses normalisasi Turki-Armenia yang tengah berlangsung dalam kondisi rapuh. Untuk itu, dibutuhkan kehati-hatian dan ketelitian agar proses normalisasi dapat berjalan sesuai yang diinginkan.
Ahli geopolitik terkemuka di Kaukasus Selatan, Nigar Goksel, mengatakan pernyataan yang dikeluarkan oleh kedua negara setelah pertemuan pertama kedua negara beberapa waktu lalu sebagai langkah pertama yang positif meskipun keduanya tidak banyak mengungkapkan.
Meskipun komunike mencatat pertemuan itu dilakukan dalam suasana yang positif dan konstruktif, namun menurutnya hal itu rapuh.
Kedua pihak, baik Ankara maupun Yerevan lanjut Goksel, memiliki kepentingan masing-masing dalam normalisasi tersebut. Di mana mereka menganggap bahwa memperbaiki hubungan akan “membuka jalan bagi integrasi regional, dengan jaringan transportasi diharapkan membawa keuntungan ekonomi dan stabilitas yang lebih baik.
“Proses normalisasi kemungkinan akan berjalan selangkah demi selangkah, idealnya membangun kepercayaan di sepanjang jalan antara Turkiye dan Armenia,” katanya kepada Anadolu Agency.
Meskipun pembukaan perbatasan masih memerlukan waktu, pakar International Crisis Group itu mengatakan ada harapan bahwa sekarang pembicaraan bilateral akan berlanjut di Ankara dan Yerevan, daripada di negara ketiga.
“Mengenai posisi Azerbaijan dalam pembicaraan Turkiye dengan Armenia, Pernyataan publik Baku mendukung, dan ini penting untuk opini publik Turki,” jelasnya.
Memperhatikan bahwa pembukaan rute transit baru ke Nakhichevan melalui wilayah Armenia sangat penting bagi Baku dan Ankara namun pembicaraan normalisasi akan tetap rapuh karena potensi eskalasi antara Armenia dan Azerbaijan dapat berdampak negatif pada negosiasi Turkiye-Armenia.
“Harapan yang diungkapkan Ankara adalah bahwa momentum dalam pembicaraan Turkiye-Armenia dapat memberikan dinamika positif yang lebih luas di kawasan ini,” tambahnya.
Senada dengan itu, Akademisi Turki terkemuka dalam studi Armenia dari Universitas Ankara, Yildiz Deveci Bozkus mengatakan bahwa proses normalisasi antara Ankara dan Yerevan sangat rapuh, meskipun fakta mengatakan bahwa kementerian Turki dan Armenia memiliki pernyataan yang sama dan itu dianggap sangat penting karena menunjukkan bahwa kedua pihak berada di halaman yang sama.
“Kedua pihak berbagi pernyataan yang sama juga penting untuk mencegah manipulasi. Tetapi prosesnya sangat rapuh, langkah-langkah perlu diambil dengan sangat hati-hati,” katanya.
Ia juga melanjutkan, opini publik mengenai pertemuan tersebut muncul, baik di Barat dan Timur. “Faktanya, terutama ketika kita melihat AS, ada laporan (Presiden AS Joe) Biden menerima surat yang mengkritik Turkiye atas pembicaraan tersebut dan bahwa diaspora Armenia menciptakan tekanan. Dalam hal ini, kita dapat mengatakan bahwa prosesnya rapuh,” katanya.
Bozkus juga mengatakan, langkah dalam menekankan pentingnya kelanjutan negosiasi tanpa prasyarat, menunjukkan bahwa peristiwa 1915 akan dibahas pada periode berikutnya, tetapi tidak dalam waktu dekat. Sebagai bagian dari langkah normalisasi, pembukaan perbatasan, energi , dan transportasi akan ditangani di tempat pertama. Sementara itu, peristiwa tahun 1915 dikesampingkan atau ditunda ke kemudian hari.
Ia mencatat bahwa pembicaraan yang berlanjut tanpa prasyarat juga memiliki reaksi balik bagi Armenia karena Perdana Menteri Nikol Pashinyan dikritik oleh kaum radikal di negara itu serta mantan politisi. Tetapi memiliki kondisi sebelum negosiasi tidak akan membuahkan hasil, tambahnya.
Jika diperhatikan, tambahnya bahwa selama negosiasi sebelumnya ada pihak ketiga seperti organisasi atau negara internasional, Bozkus mengatakan pembicaraan saat ini sedang dilakukan secara langsung antara Turkiye dan Armenia.
“Proses ini, berbeda dengan sebelumnya, perlu dilanjutkan dengan lebih teliti dan sensitif agar kedua belah pihak tidak melewatkan kesempatan normalisasi ini,” ujarnya.
Bozkus juga memperhatikan perlunya normalisasi hubungan antara Azerbaijan dan Armenia, dengan mengatakan bahwa keberhasilan pembicaraan antara Ankara dan Yerevan bergantung padanya.
“Normalisasi perbatasan akan menguntungkan semua orang, tidak hanya Turkiye atau Armenia tetapi juga akan memiliki efek positif pada rute perdagangan kawasan itu,” tambahnya.
Turkiye dan Armenia telah lama terpecah dalam sejumlah masalah, mulai dari penolakan Armenia untuk mengakui perbatasan bersama mereka hingga insiden bersejarah dengan penduduk Armenia Kekaisaran Ottoman pada tahun 1915, selama Perang Dunia I.[Devi]






















