Pandemi Covid-19, yang berlangsung lebih dari 13 bulan, telah menimbulkan dampak luar biasa. Per 11 Februari 2021, tercatat ada 107.85 juta kasus dan 2,36 kematian akibat coronavirus di 221 negara lintas benua. Akibatnya, perekonomian global tertekan masuk zona pertumbuhan negatif. Menurut OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development). pertumbuhan ekonomi global tahun 2020 -4,2%. IMF memperkirakan pertumbuhan -4,4%, sedang World Bank memprediksi kontraksi -5,2%.
Dalam peta pandemi Covid-19, Indonesia ada di posisi 19 dengan 1,183 juta kasus dan 32.167 kematian. Bagaimana dampaknya terhadap perekonomian Indonesia? Menteri Keuangan RI Sri Mulyani mengaku, terbilang dramatis. Perekonomian nasional 2020, yang awalnya diprediksi tumbuh sekitar 5%, akhirnya terkontraksi tajam menjadi -2,2%.
Indonesia tidak sendirian. Tim ekonomi IMF memprediksi, negara-negara maju (Advance Country) mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi antara -5,5% (Jerman) hingga -15,4% (AS). Negara menengah dan berkembang (Emerging Country and Midle Country) mengalami kontraksi antara -4,8 (Rusia) hingga -13,3% (Afrika Selatan). Selama pandemi, rata-rata negara menengah mengalami pertumbuhan ekonomi minus 9.1%. Negara miskin (Low Income Developing Contry) diprediksi mengalami kontraksi rata-rata -5,7%.
Sepanjang 2020, sektor properti termasuk salah satu sektor yang terdampak pandemi. Berdasarkan analisis Indonesia Property Watch (IPW), penjualan pasar perumahan sepanjang tahun 2020 di Jabodebek-Banten — sebagai benchmark perumahan nasional — menurun drastis sebesar 31,8% dibandingkan penjualan 2019. ”Ini merupakan tingkat penjualan terendah sejak siklus properti mengalami perlambatan tahun 2013,” jelas Ali Tranghanda, CEO Indonesia Property Watch.
Menurut IPW, segmen harga di bawah Rp 300 juta paling tertekan dengan penurunan sebesar 42,9%, diikuti segmen rumah di harga di atas Rp2 miliar yang anjlok 41,1%. Sementara untuk segmen harga menengah Rp301 – 500 juta dan segmen Rp501 juta sampai Rp1 miliar juga menurun masing-masing 34,2% dan 25,6%. Yang menarik, penjualan segmen harga rumah Rp1 – 2 miliar justru mengalami kenaikan 12,5%.
Pandemi memang telah memaksa sejumlah negara melakukan kebijakan lockdown di berbagai level. Isolasi mandiri, work from home (WFH), social distancing, pembatasan sosial berskala besar (PSBB) menjadi pilihan. Akibatnya, banyak sektor usaha – seperti industri transpotasi, perhotelah dan wisata, property — ikut terdampak. Pertumbuhan negatif ekonomi nasional mencerminkan hamper semua sektor pembangunan tertekan. Tak aneh jika banyak industri dan unit usaha produktif gulung tikar. Gelombang PHK atau perumahan sementara karyawan terjadi di banyak wilayah.

Syukurlah, di tengah berbagai cerita negatif pandemi, masih ada kisah-kisah positif yang memberi harapan dan optimisme baru. Salah satunya muncul dari PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, BUMN tengah merayakan HUT-nya yang ke- 71. Dalam keterangan persnya, Plt Direktur Utama Bank BTN, Nixon LP Napitupulu, menyebut pada 2020 BBTN berhasil menorehkan kinerja yang positif. Antara lain membukukan laba Rp 1,61 T atau melesat 671,6% dari capaian tahun sebelumnya. Selama 71 tahun berdiri, Bank BTN telah merealisasikan kredit lebih dari Rp 640 triliun. Dana itu mengalir kepada lebih dari 5 juta masyarakat Indonesia dari seluruh segmen.
Dalam Program Sejuta Rumah sejak 2015, Bank BTN telah merealisasikan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) maupun dukungan pembiayaan konstruksi. Sampai sebelum pandemic, capaian KPR selalu meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2015 mencapai 474.099 unit dari target 431.000 unit, pada 2016 mencapai 595.540 unit dari target 570.000 unit. Kemudian pada 2017 realisasinya sebesar 666.806 unit dari target 666.000 unit, pada 2018 mencapai 757.093 unit dari target 750.000 unit dan pada 2019 hingga akhir Desember 2019 telah mencapai 753.749 unit.

Selama tahun 2020, ketika kondisi perekonomian nasional dan global mengalami resesi (bahkan dapat dikatakan depresi), Bank BTN masih dapat menyalurkan pembiayaan perumahan untuk 565.294 unit rumah. BUMN yang bermoto ‘Menjadi Sahabat Keluarga’ ini telah menyalurkan KPR Subsidi bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), baik dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), Subsidi Selisih Bunga (SSB) maupun Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT). “Dengan pencapaian tersebut, Bank BTN menjadi kontributor penting dalam Program Sejuta Rumah,” ungkap Nixon.
Hingga saat ini pangsa pasar KPR subsidi (konvensional maupun syariah) BTN secara kumulatif hingga tahun 2020 mencapai 85,3%. Sementara di segmen KPR secara nasional, Bank BTN menguasai pangsa pasar sebesar 40% (data per September 2020).
Program Sejuta Rumah — diluncurkan Presiden Joko Widodo tahun 2015 — ikut mendorong percepatan dan peningkatan kolaborasi antar-stakeholders perumahan untuk menyediakan rumah yang layak huni bagi masyarakat, khususnya masyarakat berpenghasilan rendah. Selama pandemi, BTN juga berpartisipasi membantu pemulihan ekonomi Indonesia dengan memberi kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses KPR dan bertransaksi keuangan secara digital. Layanannya diperluas hingga menyasar pekerja informal, seperti tukang ojek, tukang cukur, dan sopir taksi melalui KPR berbasis komunitas. Dalam rangka memeriahkan HUT ke-75 TNI (2020), Bank BTN menawarkan program KPR BTN Patriot khusus untuk anggota TNI.
Pada saat yang sama, Bank BTN juga mengakselerasi program KPR From Home untuk membantu masyarakat terdampak aturan PSBB. Program ini melibatkan sedikitnya 42 pengembang properti nasional dengan ratusan proyek perumahan maupun apartemen. Melalui KPR From Home, konsumen dapat mengajukan aplikasi Kredit KPR/KPA secara online melalui portal BTN Properti (www.btnproperti.co.id) atau Mobile Apps BTN Properti. Melalui portal ini, konsumen hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit dapat mengajukan KPR secara online.
BUMN yang dulu bernama Postspaarbank (1987), Tyokin Kyoku (1942), Bank Tabungan Pos (1950), dan Bank BTN (1963) ini juga berkiprah dalam riset dan pengembangan khusus sektor properti bernama Housing Finance Center (HFC). HFC memiliki visi menjadi pengelola pusat pembelajaran perbankan dan pembiayaan perumahan yang profesional dan terkemuka di Indonesia. Bekerjasama dengan ITB, UGM, IPB, UNDIP, Unsoed, UNS, UIN, UMM, dan hampir semua PTN di seluruh Indonesia, dalam lima tahun terakhir, HFC telah menyelenggarakan sejumlah pendidikan short course, literasi properti, dan workshop dengan output menghasilkan sekitar 1.000 developer baru.
HFC juga menganalisis perkembangan bisnis properti di Indonesia. Hasil kajian berkalanya selalu menjadi acuan bisnis properti di tanah air. Atas dasar itu, direksi BTN bertekad untuk menjadi Best Mortgage Bank di Asia Tenggara pada 2025. Untuk itu, Bank BTN telah menyusun peta jalan (roadmap) serta rencana bisnis untuk melakukan transformasi digital.
Menurut Nixon LP Napitupulu, roadmap tersebut terdiri dari upaya peningkatan low-cost funding sebesar dua kali lipat menjadi Rp270 triliun. Kemudian, mendorong keterjangkauan akses perumahan bagi lebih dari enam juta masyarakat Indonesia dan membangun one stop shop financial solution untuk bisnis perumahan.

Bank BTN, dalam visinya, juga akan menjadi inovator digital dan home of Indonesia’s best talent, serta membangun portofolio kredit yang berkualitas tinggi dan menurunkan rasio kredit macet. Roadmap menuju bank terbaik dalam segmen pembiayaan perumahan dimulai dari tahun 2020 dengan melakukan transformasi demi mencapai pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Tahun 2021, BTN mematok target laba 2,8 trilyun. Tahun berikutnya, bank ini akan memperluas cakupan bisnisnya. Ada 10 tema strategis yang dikembangkan. Antara lain: penyempurnaan branch operating model, kemitraan/pertumbuhan anorganik, pengembangan pembiayaan perumahan untuk segmen emerging affluent dan affluent, pengembangan program kepemilikan rumah KPR subsidi, memperluas real estate value chain, mengembangkan solusi keuangan lengkap, mengembangkan channel transaksi elektronik, penerapan struktur sertifikat badan usaha (SBU) untuk menciptakan organisasi yang berorientasi pada kinerja, proses bisnis kredit yang lebih baik dan kokoh, serta mempertahankan tingkat NPL (non performing loan) yang rendah di semua segmen.
Harapannya, pada tahun 2025, Bank BTN sudah memiliki pelayanan kelas dunia berkat pemanfaatan teknologi digital. Dengan sejumlah strategi, kerja keras, dan sinergi para stakeholdernya, Bank BTN diproyeksikan berhasil menjadi The Best Mortgage Bank di Asia Tenggara. Bersama itu, Bank BTN tentu dapat memberikan yang terbaik pula bagi masyarakat Indonesia.



















