Jeddah, Gontornews — Para pemimpin politik dan agama di seluruh dunia bersatu mengecam tindakan brutal seorang pria berpisau yang memenggal kepala seorang wanita dan membunuh dua orang lainnya di sebuah gereja di Kota Nice, Prancis, Kamis (29/10).
Arabnews.com merilis, sang penyerang, Brahim Aouissaoui (21), seorang migran Tunisia, ditembak enam kali oleh polisi saat ia melarikan diri dari Basilika Notre-Dame, dan dibawa ke rumah sakit untuk perawatan.
Presiden Emmanuel Macron mengatakan Prancis telah diserang oleh seorang teroris Islam “karena nilai-nilai kami, untuk selera kami akan kebebasan, untuk memiliki kebebasan berkeyakinan di tanah kami. Dan saya mengatakannya dengan sangat jelas lagi hari ini, kami tidak akan memberikan tempat apa pun.”
Serangan itu terjadi saat umat Islam memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW. Seorang jurubicara Dewan Prancis untuk Kepercayaan Muslim mengatakan: “Sebagai tanda duka cita dan solidaritas dengan para korban dan orang yang mereka cintai, saya menyerukan kepada semua Muslim di Prancis untuk membatalkan semua perayaan Maulid Nabi.”
Arab Saudi mengutuk serangan itu. “Kami mengulangi penolakan Kerajaan atas tindakan ekstremis yang tidak toleran dengan semua agama, kepercayaan manusia, dan akal sehat, dan kami menegaskan pentingnya menolak praktik yang menghasilkan kebencian, kekerasan, dan ekstremisme,” kata Kementerian Luar Negeri.
Organisasi Kerjasama Islam (OKI) menegaskan posisinya yang teguh menolak fenomena hiperbola, ekstremisme dan terorisme dalam segala bentuk dan manifestasinya, apapun penyebab dan motifnya. OKI menyerukan untuk menghindari praktik-praktik yang mengarah pada kebencian dan kekerasan.”
Di Al-Azhar, Kairo, Mesir, Mufti Besar Ahmed Al-Tayeb mengecam pembunuhan itu sebagai “aksi teror kebencian.” Dia berkata, “Tidak ada yang membenarkan tindakan teror keji yang bertentangan dengan ajaran Islam ini.”
Sedangkan Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri menyatakan ketidaksetujuannya atas serangan kriminal yang keji itu. Dia mendesak umat Islam “untuk menolak tindakan kriminal yang tidak ada hubungannya dengan Islam atau Nabi.”
Kecaman juga datang dari Presiden AS Donald Trump, Sekjen PBB Antonio Guterres, dan para pemimpin Eropa, Arab dan Israel. “Hati kami bersama rakyat Prancis. Amerika berdiri dengan sekutu tertua kami dalam pertarungan ini,” cuit Trump.
Serangan hari Kamis dimulai sekitar pukul 9 pagi ketika Aouissaoui menyerbu gereja di Avenue Jean Medecin. Dia menggorok leher seorang pekerja gereja, memenggal kepala seorang wanita tua, dan melukai wanita lain.
Pejabat gereja dan wanita tua itu meninggal di tempat kejadian. Korban ketiga melarikan diri ke kafe terdekat, di sana dia meninggal karena luka-lukanya.
Walikota Nice, Christian Estrosi, membandingkan serangan itu dengan pemenggalan kepala guru Samuel Paty di dekat Paris, yang telah menunjukkan kartun Nabi Muhammad SAW di kelas kewarganegaraan. []





















