Beirut, Gontornews — Parlemen Lebanon, Rabu (14/06/2023), gagal memilih presiden Lebanon untuk yang kedua belas kalinya dalam sejarah. Kegagalan ini terjadi seiring meruncingnya perbedaan di parlemen antara pendukung calon presiden Lebanon setelah Michel Aoun: Jihad Azour dan Sleiman Frangieh.
Pada Rabu, para anggota parlemen menyelenggarakan pemilihan untuk mengganti Presiden Michel Aoun yang masa jabatannya berakhir Oktober mendatang. Untuk mengangkat presiden, parlemen membutuhkan sedikitnya 2/3 suara mayoritas atau 86 dari total 128 suara parlemen.
Dalam pemungutan suara putaran pertama, Jihad Azour, yang mendapatkan dukungan dari oposisi Hizbullah meraih 59 suara. Sementara pesaingnya, Sleiman Frangieh, meraih 51 suara yang artinya tidak ada calon Presiden yang meraih suara mayoritas parlemen.
Al-Jazeera menjelaskan bahwa penyebab dari kekisruhan parlemen di Lebanon karena aliansi Hizbullah keluar dari prosesi pemungutan suara.
“Hizbullah bersikeras bahwa mereka tidak akan menerima kandidat dari oposisi yang mereka sebut sebagia kandidat yang konfrontatif,” kata Zeina Khodr, jurnalis Al-Jazeera.
“Tetapi, Hizbullah juga dikritik karena tetap memaksakan kandidatnya sendiri, Sleiman Frangieh, seorang pria yang tidak benar-benar memiliki legitimasi di antara komunitasnya. Jabatan presiden diperuntukkan bagi warga beragama Kristen dalam sistem pembagian kekuasaan sektarian di Lebanon dan pemimpin utama. Sementara partai-partai Kristen di parlemen Lebanon mendukung Jihad Azour,” sambungnya.
Sebagai informasi, Lebanon memiliki sistem politik yang kompleks berdasarkan Pakta Nasional, yaitu pakta tidak tertulis antara blok politik yang menetapkan representasi dan pembagian kekuasaan berbasis agama yang disepakati pada tahun 1943.
Melalui pakta tersebut, presiden dan panglima tentara harus beragama Kristen Maronit, perdana menteri harus Muslim Sunni dan ketua parlemen harus Syiah. Sementara posisi wakil ketua parlemen dan wakil perdana menteri dipegang oleh Kristen Ortodoks Yunani dan kepala angkatan bersenjata selalu berasal dari komunitas Druze. [Mohamad Deny Irawan]





















