Benghazi, Gontornews – Pasukan Haftar yang berbasis di Libya timur tidak akan mengizinkan PBB menggunakan satu-satunya bandara yang berfungsi di ibukota, Tripoli. Demikian kata juru bicara kelompok yang berusaha merebut kota itu dari pemerintah yang diakui secara internasional pada 12 Februari.
PBB sebelumnya memperingatkan, pembatasan penerbangan oleh pasukan Khalifa Haftar yang dikenal sebagai Tentara Nasional Libya (LNA) akan menghambat upaya kemanusiaan dan mediasi di negara penghasil minyak itu.
LNA, yang didukung oleh Mesir dan Uni Emirat Arab, sejak April lalu telah berusaha mengambil alih Tripoli tetapi gagal menembus pertahanan kota.
Namun, LNA memiliki keunggulan udara berkat pesawat tempur yang dipasok oleh UEA, yang mencakup seluruh Libya melalui tautan satelit, sebuah laporan PBB mengatakan pada bulan November.
Juru bicara LNA Ahmed Mismari mengatakan kepada wartawan di kota Benghazi bahwa PBB harus menggunakan bandara lain seperti Misrata karena pihaknya tidak dapat menjamin keselamatan penerbangan ke bandara Mitiga Tripoli karena Turki menggunakannya sebagai pangkalan.
Turki telah memasok drone tempur ke Tripoli yang di masa lalu beroperasi di Mitiga dan juga pertahanan udara canggih untuk ibukota.
Pada 12 Februari, Dewan Keamanan PBB yang beranggotakan 15 negara mengeluarkan resolusi pertamanya untuk Libya sejak perang Tripoli pecah. Dewan Keamanan menyatakan “keprihatinan besar atas eksploitasi konflik oleh kelompok-kelompok teroris dan kekerasan” dan menuntut agar para pihak berkomitmen untuk gencatan senjata menurut ketentuan yang disepakati oleh Komisi Militer Bersama negara tersebut.
David Schenker, diplomat senior AS untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, mengatakan kepada Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS bahwa tugas membawa Libya kembali ke meja perundingan menjadi rumit dengan keterlibatan aktor-aktor eksternal.
Komisi Militer Gabungan mencakup lima perwira senior dari LNA dan lima perwira yang selaras dengan Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui internasional.
Faksi-faksi yang bersaing itu memulai pembicaraan yang dipimpin AS di Jenewa pekan lalu yang bertujuan mengamankan gencatan senjata, tetapi putaran pertama gagal menghasilkan kesepakatan.
Misi PBB di Libya (UNSMIL) sebelumnya mengatakan LNA dalam tiga pekan terakhir beberapa kali memblokir penerbangan PBB yang membawa staf ke dan dari Libya.
Sumber kemanusiaan mengatakan Haftar memberlakukan “zona larangan terbang” untuk Tripoli dan ada kekhawatiran penerbangan PBB mungkin menjadi target.
Utusan PBB Ghassan Salame telah menjadi penengah antara Haftar dan Pemerintah Tripoli. []




















