Wad Madani, Gontornews – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan pada hari Ahad (9/7/2023) bahwa Sudan yang dilanda konflik berada di ambang “perang saudara skala penuh” yang dapat mengguncang seluruh wilayah.
Hal ini disampaikan PBB setelah terjadi serangan udara di daerah pemukiman yang menewaskan sekitar dua lusin warga sipil.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada hari Ahad mengutuk serangan udara di Omdurman, yang katanya “dilaporkan menewaskan sedikitnya 22 orang” dan melukai puluhan lainnya, kata wakil juru bicaranya, Farhan Haq, dalam sebuah pernyataan dirilis Arabnews.com.
Guterres “sangat prihatin bahwa perang yang sedang berlangsung antara angkatan bersenjata telah mendorong Sudan ke ambang perang saudara skala penuh, yang berpotensi membuat seluruh kawasan tidak stabil,” kata Haq.
Dia menambahkan: “Ada pengabaian terhadap hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia yang berbahaya dan mengganggu.”
Sementara itu Kementerian Kesehatan melaporkan 22 warga sipil tewas dan sejumlah besar terluka” akibat serangan di kota kembar Khartoum, Omdurman, di distrik Dar Al-Salam.
Setelah hampir tiga bulan perang antara dua jenderal yang bersaing di Sudan, serangan udara itu merupakan insiden terbaru yang memicu kemarahan.
Sekitar 3.000 orang telah tewas dalam konflik tersebut, para penyintas telah melaporkan gelombang kekerasan seksual dan para saksi telah berbicara tentang pembunuhan etnis. Telah terjadi penjarahan yang meluas, dan PBB memperingatkan kemungkinan kejahatan terhadap kemanusiaan di wilayah Darfur.
Sebuah video yang diposting oleh kementerian kesehatan di Facebook menunjukkan mayat yang tampaknya tak bernyawa setelah serangan udara, termasuk beberapa wanita. Narator mengatakan bahwa penduduk menghitung 22 orang tewas.
Pasukan Dukungan Cepat paramiliter (RSF), yang memerangi tentara reguler, mengklaim bahwa serangan itu menewaskan 31 orang.
Sejak perang dimulai, paramiliter telah mendirikan pangkalan di daerah pemukiman, dan mereka dituduh memaksa warga sipil dari rumah mereka.
Hampir tiga juta orang telah terlantar akibat pertempuran di Sudan, di antaranya hampir 700.000 orang telah melarikan diri ke negara tetangga menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi. []





















