Ghouta, Gontornews — Kepala Hak Asasi Manusia PBB, Zeid Ra’ad al-Hussein mengatakan bahwa serangan Pemerintah Suriah di wilayah Ghouta Timur sebagai kejahatan perang, dan hal itu harus segera dihentikan.
Menurutnya, kejahatan perang yang terjadi di Ghouta Timur dan wilayah lain di Suriah akan berpontensi pada kejahatan kemanusiaan, dimana warga sipil serta fasilitas medis dan petugas darurat menjadi target pemboman.
Selain itu, penggunaan zat kimia beracun serta larangan bantuan untuk bisa masuk memperparah kondisi, akibatnya 400 ribu warga Ghouta Timur terjebak dan 12 persen anak-anak di wilayah tersebut mengalami malnutrisi.
“Pelaku kejahatan ini harus tahu bahwa mereka sedang diidentifikasi, mereka harus dituntut, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah mereka lakukan,” jelas Hussein seperti yang diberitakan Aljazeera.com.
Pejabat PBB tersebut juga mengatakan bahwa warga sipil di wilayah perang itu “dituntut untuk tunduk atau mati” dalam serangan pemerintah Suriah, dan tuntutan pada pelaku kejahatan perang tersebut sama seperti kejahatan yang terjadi di Serbia dan Argentina.
Sementara itu, Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) yang berbasis di Inggris, mengatakan pasukan pemerintah dan sekutu telah mengintensifkan serangan mereka terhadap posisi pemberontak dalam 48 jam terakhir.
Kepala SOHR, Rami Abdel Rahman mengatakan, Pasukan pemerintah yang didukung Rusia mencoba untuk memotong kota utama Douma dan sekitarnya di utara daerah kantong, serta mengisolasi wilayah tenggara Al-Marj. Area yang berada di bawah kontrol pemberontak hanya sepertiga dari ketinggiannya pada tahun 2012.
Perang di Suriah dimulai pada tahun 2011 ketika demonstrasi damai awalnya dilanggar keras oleh pemerintah Suriah.Konflik tersebut menelan korban lebih dari 500.000 jiwa, menurut kelompok yang menghitung jumlah korban.






















