Jakarta, Gontornews — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menegaskan komitmen organisasinya untuk membantu pihak terkait guna memulihkan situasi di Myanmar. Pernyataan Gus Yahya ini terlontar saat menerima kunjungan Direktur Eksekutif Jaringan Hak Asasi Manusia Burma sekaligus Juru Bicara Jaringan Organisasi Muslim Myanmar Kyaw Win di Kantor PBNU, Kramat Raya, Jakarta Pusat, Jumat 13 Januari 2023.
Gus Yahya, sapaan akrabnya, menyebut bahwa PBNU sedang melakukan strategi untuk membangun gerakan internasional demi mencari solusi dari berbagai konflik antar-identitas yang hingga kini masih terjadi di berbagai negara.
Dalam diskusinya bersama Gus Yahya, Kyaw Win menjelaskan bahwa situasi umat muslim di Myanmar berada dalam tekanan. Meski demikian, tidak semua entis muslim di Myanmar adalah Rohingya karena, faktanya, ada 6 etnis muslim berbeda di Myanmar dan semuanya adalah minoritas.
“Ada 6 kelompok minorita muslim, salah satunya adalah Rohingya. Semuanya menghadapi kondisi keterbatasan sebagai minoritas, bahkan tekanan,” ungkap Ketua Tandfiziyah PBNU Hj Alissa Qotrunnada Munawarah Wahid.
“Beliau (Gus Yahya) juga menyampaikan pandangan bahwa dunia ini memerlukan satu pendekatan universal untuk mengatasi persoalan peradaban terutama terkait agama-politik. Itu yang sedang menjadi fokus NU dalam kancah global,” sambungnya sebagaimana dilansir NU Online.
Gus Yahya menambahkan bahwa saat ini PBNU terus melakukan inisiasi strategi untuk membangun gerakan internasional seperti saat menggelar Forum Religion Twenty (R20) pada 2-6 November 2022 lalu. Dalam forum tersebut, PBNU mempertemukan para pemimpin agama dari seluruh dunia untuk membahas solusi dari berbagai konflik yang terjadi di dunia, atas nama agama.
“Alhamdulillah pemerintah berkenan menjadikan (R20) sebagai salah satu rangkaian acara utama dari G20,” kata Gus Yahya.
Gus Yahya bahkan menegaskan PBNU melakukan inisiasi strategi untuk dunia Islam. baginya, PBNU membutuhkan transformasi dunia Islam secara keseluruhan. Untuk itu, PBNU akan menggelar Muktamar Internasional Fiqh Peradaban di Surabaya pada 6 Februari mendatang. Rencananya, PBNU akan mengundang 400 ulama dari dalam dan luar negeri.
“Kami mengundang tidak kurang dari 200 ulama dari berbagai dunia, sekitar 50 negara. Kita sudah mendapatkan komitmen dari sejumlah tokoh untuk menjadi pembicara kunci,” ucap Gus Yahya.
Di antara tokoh yang akan hadir dan menjadi pembicara kunci adalah Grand Syekh Al-Azhar Muhammad Ath-Thayyeb, Mufti Agung Mesir Syekh Syauqi Ibrahim Allam, Sekretaris Jenderal Rabithah Alam Islami Muhammad bin Abdul Karim Al Issa, dan Sekretaris Jenderal Akademi Fiqih Internasional Organisasi Kerjasama Islam (OKI) Koutoub Moustapha Sano. [Mohamad Deny Irawan]


















