Kolombo, Gontornews — Pemerintah Sri Lanka, Selasa (31/5/2022), ingin para petani menanam lebih banyak tanaman padi sebagai bagian dari rencana mencegah krisis pangan yang parah. Kebijakan ini terlontar seiring dengan munculnya peringatan ahli soal risiko penurunan 50 persen produksi beras yang memperparah dampak krisis keuangan nasional.
Sri Lanka berada dalam pergolakan krisis terburuknya dalam rentang waktu tujuh dekade terakhir. Negara berpenduduk 22 juta orang tersebut kehabisan cadangan devisa dan tidak mampu membayar sejumlah impor penting seperti bahan bakar, makanan dan obat-obatan.
“Jelas situasi (ketersediaan) makanan menjadi lebih buruk. Kami meminta semua petani untuk turun ke ladang dalam lima hingga sepuluh hari mendatang dan menanam padi,” kata Menteri Pertanian Sri Lanka, Mahinda Amaraweera, dalam konferensi pers yang dilansir Reuters.
Perdana Menteri Sri Lanka, Ranil Wickremesinghe, memperingatkan risiko kekurangan pangan parah pada bulan Agustus mendatang. Ranil juga memperkirakan negara membutuhkan setidaknya 600 juta Dolar Amerika Serikat untuk biaya impor pupuk.
Karenanya, sebagian besar pupuk akan datang terlambat seiring dengan siklus tanam padi yang dimulai pada awal Juni. Sejumlah pakar pertanian pun memprediksi jumlah pupuk yang tersedia untuk beras, teh dan jagung tidak akan cukup untuk dua musim tanam selanjutnya.
“Bahkan, jika kita membawa pupuk hari ini, itu sudah terlambat untuk mendapatkan hasil panen yang baik,” ungkap Guru Besar ilmu pertanian dari Universitas Paradeniya, Buddhi Marambe.
Lebih lanjut, Menteri Amaraweera mengatakan pemerintah Sri Lanka sedang melakukan pembicaraan dengan India terkait impor 65.000 ton pupuk. [Mohamad Deny Irawan]





















