Aljir, Gontornews — Pasca pengunduran diri, Presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika pada April lalu, hingga saat ini pemilihan kepala negara itu tertunda. Salah satu alasannya adalah tuntutan warga Aljazair terhadap perubahan sistem politik di negara itu.
Dikutip laman Aljazeera, pada Selasa dan Jumat, warga menggelar demonstrasi dengan turun ke jalan. Selain menuntut perubahan sistem politik, warga juga meminta pembebasan tokoh-tokoh politik yang ditangkap dalam aksi demonstrasi beberapa tahun lalu.
Selain itu, para pengunjuk rasa juga menyerukan pencabutan blokade yang diberlakukan di pintu masuk ke Aljir serta pengurangan personil kepolisian yang berjaga saat demonstrasi pekanan digelar.
Menanggapi tuntutan tersebut, Presiden sementara, Abdelkader Bensalah mengatakan, pihaknya akan mempelajari tuntutan warganya tersebut. Ia juga telah membentuk Komite beranggotakan tujuh orang untuk membahas soal peraturan pemilihan presiden di negara itu.
“Kami akan mempelajari tuntutan itu,” kata Bensalah.
Sementara itu, Panglima Militer Aljazair, Ahmed Gaid Salah mengatakan pengerahan polisi dilakukan untuk keamanan saat demonstrasi yang dianggapnya merupakan kepentingan segelintir orang.
Ia juga menambahkan, menggelar demonstrasi harus diorganisir dengan benar untuk menghindari pihak-pihak yang berkepentingan menyusup ke dalam demonstrasi tersebut. “Pemilihan adalah titik penting di mana dialog harus fokus, dialog yang kami sambut dan berharap akan berhasil,” katanya.
Pemilihan Presiden Aljazair tertunda setelah sebelumnya ditetapkan untuk digelar 4 Juli lalu. Penundaan terjadi juga setelah hanya ada dua calon potensial dalam pemilihan tersebut, dan diketahui bahwa keduanya memiliki pencalonan ditolak. [Devi Lusianawati]





















