Canberra, Gontornews — Kematian pencari suaka Iran yang ditahan di pusat penahanan pengungsi lepas pantai Australia, Manus, dapat dicegah. Demikian kata seorang koroner (otoritas yang memutuskan sebab musabab kematian seseorang).
Anggota koroner negara bagian Queensland, Terry Ryan, Senin (30/7) mengatakan bahwa keadaan yang menyebabkan kematian Hamid Khazaei dapat disebut sebagai “serangkaian kesalahan klinis, ditambah dengan kegagalan dalam komunikasi” yang menyebabkan keterlambatan dalam perawatannya.
Dia juga meminta pemerintah Australia untuk meningkatkan layanan kesehatan bagi pencari suaka di pusat-pusat penahanan lepas pantai.
Hamid Khazaei meninggal pada usia 24 tahun pada 5 September 2014, dua minggu setelah tertular infeksi kaki saat ditahan di penjara Pulau Manus Papua Nugini.
Laporan Ryan menemukan bahwa tidak ada antibiotik tersedia di klinik Manus untuk mengobati infeksi.
Kondisinya memburuk dengan cepat. Meskipun dokter memintanya untuk segera ditransfer ke Australia guna perawatan, sebagai gantinya ia malah dikirim ke rumah sakit tanpa unit perawatan intensif di ibukota Papua Nugini, Port Moresby.
Setelah menderita serangkaian serangan jantung, Khazaei dipindahkan ke rumah sakit di kota Brisbane di Australia di mana ia didapati menderita kerusakan otak yang parah.
Dia meninggal setelah dinyatakan mati otak.
Pada saat kematiannya, Khazaei telah ditahan di Manus selama setahun.
“Jika kerusakan klinis Khazaei diakui dan ditanggapi secara tepat waktu di klinik [Manus], dan dia dievakuasi ke Australia dalam 24 jam setelah mengalami sepsis berat, dia akan selamat,” tulis Ryan dalam temuannya.
Kematian serupa akan dapat dicegah jika pencari suaka dipindahkan ke tempat-tempat seperti Australia atau Selandia Baru, katanya. [Rusdiono Mukri]


















