London, Gontornews – Langkah diplomasi Arab Saudi yang meminta bantuan Irak untuk normalisasi hubungan dengan Iran mendapat tanggapan beragam dari para pengamat. Saad Jawad, profesor ilmu politik di London School of Economics, menyebut gerakan diplomatik Saudi-Irak itu “aneh”.
Seperti dikutip Aljazeera, Jawab menyebutkan, “Jika Arab Saudi bermusuhan dengan Qatar karena hubungan Qatar dengan Iran … bagaimana mereka bisa meminta rakyat Irak untuk mengubah hubungan mereka dengan Iran?”
“Orang-orang Saudi tahu betul bahwa Irak sedikit bias dalam hubungannya dengan Iran, dan mereka berada di bawah pengaruh orang-orang Iran.”
Jawad mengatakan, seharusnya Arab Saudi bisa meminta penengah yang lebih netral seperti Kuwait atau Oman, yang keduanya juga memiliki “hubungan baik” dengan Iran.
Namun bagi Reza Khaasteh, seorang jurnalis untuk situs Iran Front Page yang berbasis di Teheran, tawaran tersebut merupakan “langkah tulus” Riyadh mengingat “kedua belah pihak memang saling mengirimkan sinyal” baru-baru ini.
Khaasteh menyebutkan, menjelang pengumuman pada hari Ahad (13/8), Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir mengadakan pembicaraan singkat dengan mitranya dari Iran, Javad Zarif, di pertemuan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) di Istanbul, tanggal 1 Agustus.
“Jadi kita bisa menafsirkan perintah pangeran mahkota Saudi untuk mediasi sebagai kelanjutan dari semua perkembangan positif tersebut. Ya, keduanya mencari hubungan yang lebih baik, tapi tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan,” paparnya. [Rusdiono Mukri]





















