Paris, Gontornews — Perdana Menteri Prancis, Edouard Philippe, Selasa (28/4) akan menerapkan pengujian COVID-19 secara agresif mulai 11 Mei mendatang. PM Philippe berencana akan melaksanakan 700.000 pengujian COVID-19 per minggu. Andai seseorang terdentifikasi positif, pemerintah akan menguji dan mengisolasi siapapun yang memiliki kontak dengan pasien tersebut.
PM Philippe juga memperingatkan warganya agar disiplin dalam menghindari wabah ini. Pernyataan ini dsampaikan dalam presentasi rencana pemerintah tentang penguncian wilayah akibat COVID-19 di hadapan Majelis Nasional di Paris, Selasa (28/4).
“Ketika kita mengakhiri penguncian, kita akan memiliki kapasitas untuk meningkatkan pengujian secara besar-besaran,” kata PM Philippe sebagaimana dilansir Reuters.
Berbeda dengan sejumlah negara Uni Eropa, Prancis menjadi negara yang melakuan pengujian COVID-19 paling rendah. Rata-rata, Prancis hanya melakukan 200.000 tes per mingguya.
Philippe menambahkan bahwa penguncian telah menyelamatkan puluhan ribu jiwa di Prancis. Kini saatnya, kata Philippe, pelonggaran atas penguncian wilayah diberlakukan serta menyelamatkan ekonomi yang ambruk akibat COVID-19.
Ia pun mengingatkan bahwa infeksi berpotensi meningkat andai Prancis terlalu cepat bergerak sementara warga terlena.
“Kami berada di ujung pisau. Saya harus memiliih dari sejumlah keputusan yang buruk,” katanya.
“Kita harus melindungi rakyat Prancis tanpa melumpuhkan bahkan menghancurkan Prancis. Banyak pihak yang memprediksi bahwa epidemi ini akan muncul lagi,” tambahnya.
Philippe menjelaskan pemerintah akan mengizinkan sekolah dan sejumlah aktifitas bisnis di Prancis pada 11 Mei mendatang. Sementara untuk restoran, kafe, pantai akan tutup hingga Juni mendatang. Sedangkan kegiatan olahraga seperti sepakbola akan ditangguhkan hingga September mendatang.
Di lain sisi, Pemerintah siap untuk memperlambat atau menunda pelonggaran penguncian wilayah jika infeksi COVID-19 terus meninggi.
“Jika indikatornya tidak cukup baik, kami tidak akan melepas kuncian pada 11 Mei atau kami akan melakukannya dengan lebih ketat,” tegas Philippe.
“Kita harus belajar hidup dengan COVID-19 dan melindungi diri kita dari virus itu,” pungkasnya.
Sejauh ini, sebagaimana dilansir John Hopkins University, Prancis melaporkan 169.052 kasus dengan 23.660 diantaranya meninggal dunia. Angka infeksi COVID-19 di Prancis menjadi yang tertinggi nomor 4 setelah Amerika Serikat, Spanyol dan Italia. [Mohamad Deny Irawan]





















