Beirut, Gontornews — Presiden Lebanon, Michel Aoun, mengatakan parlemen akan membahas pemilihan Perdana Menteri Lebanon 15 Oktober mendatang. Penentuan Perdana Menteri Lebanon juga merupakan langkah pertama guna membentuk pemerintahan negara yang baru.
Ledakan Amonium Nitrat di Pelabuhan Beirut juga menyebabkan Perdana Menteri, Hassan Diab, dan seluruh jajarannya mengundurkan diri. Ledakan tersebut menewaskan hampir 200 orang serta menghancurkan sebagian besar wilayah Beirut.
Perdana Menteri pengganti Hassan Diab, Mustapha Adib, justru mundur dari jabatannya sebulan sejak pelantikannya pada awal September. Walhasil, dalam satu bulan terakhir, kursi Perdana Menteri Lebanon lowong.
Reuters menyebut mundurnya Mustapha Adib dari kursi Perdana Menteri Lebanon merupakan pukulan telak bagi Prancis. Sebagai informasi, penunjukan Mustapha Adib tidak lepas dari campur tangan Presiden Emmanuel Macron. Macron, sejatinya, mendorong Adib untuk membentuk kabinet nonpartisan di Lebanon. Namun, usaha tersebut menemui ganjalan setelah Adib tidak mampu membentuk kabinet tersebut.
Adib tersandung perselisihan mengenai pengangkatan jabatan Menteri Keuangan yang memegang kunci penyelamatan ekonomi.
Macron lantas menegur pemimpin Lebanon pasca Mustapha Adib mundur sebagai Perdana Menteri. Ia menyebut pemimpin Lebanon berkhianat. Namun, Macron memastikan pihaknya akan terus melanjutkan upaya membangun stabilitas politik Lebanon.
Pernyataan Macron tersebut lantas membuat para petinggi negara marah. Namun, mereka tidak dapat mengungkapkan amarahnya karena kondisi ekonomi dan stabilitas ekonomi Lebanon yang terganggu. [Mohamad Deny Irawan]


















