Amsterdam, Gontornews — Raja Belanda, Raja Willem-Alexander, Sabtu (01/07/2023), secara resmi, meminta maaf atas peran negaranya dalam perdagangan budak di masa lalu. Raja Willem mengaku, tidak adanya peran kerajaan untuk menghentikan praktik ‘horor’ itu telah mempengaruhinya secara pribadi dan intens.
“Hari ini, saya berdiri di depan Anda sebagai Raja dan pemeirntah. Hari ini, saya meminta maaf pada diri saya sendiri. Saya meminta maaf atas kurangnya tindakan yang sangat jelas,” kata Raja Willem saat berpidato dalam peringatan 160 tahun penghapusan perbudakan di Belanda.
“Raja dan penguasa house of orange tidak mengambil langkah apapun melawan perbudakan,” sambung Raja.
BBC melansir, Belanda menjadi salah satu kekuatan kolonial terbesar setelah abad ke-17. Negara bawah laut itu menguasai sejumlah wilayah di dunia serta, para pedagang asal Belanda, memperdagangkan lebih dari 600.000 orang.
Sebuah studi yang rilis pada bulan Juni mengungkap, penguasa Belanda menerima imbalan setara 545 juta Euro dari koloni perbudakan dalam rentang tahun 1675 hingga 1770.
Selama abad ke-17 Belanda menaklukkan sebagian besar wilayah yang sekarang menjadi negara seperti Indonesia, Afrika Selatan, Curaçao, dan Papua Nugini. Sejak itu, Belanda menjadi pemain kunci dalam perdagangan budak transatlantik.
Ribuan orang diperdagangkan dari Afrika ke koloni Belanda di Karibia dan Amerika Selatan. Bahkan, lima persen dari seluruh perdaganan budak transatlantik saat itu adalah kontribusi Belanda sebelum dilarang pada tahun 1863.
Akan tetapi, perbudakan di Suriname, sebuah negara di Afrika, tetap berlanjut hingga memasuki masa transisi hingga 10 tahun setelah itu. Akibatnya, banyak warga yang mengalami kesedihan dan rasa sakit yang terkira.
Raja mengakui, pihaknya tidak dapat berbicara dengan seluruh bangsa yang terlibat dalam perdagangan budak di masa lalu. Tapi, ia dan kerajaan berkomitmen untuk memperjuangkan kesetaraan bagi semua orang.
“(Sebagian besar warga Belanda) mendukung perjuangan untuk kesetaraan bagi semua orang, terlepas dari warna kulit, budaya atau latar belakang. Setelah pengakuan dan permintaan maaf, kita dapat bekerjasama dalam penyembuhan, rekonsiliasi dan pemulihan,” ucap Raja. [Mohamad Deny Irawan]





















