London, Gontornews — Sekitar 300.000 guru dan tenaga pengajar di Inggris, Rabu (05/07/2023) berdemonstrasi menuntut kenaikan gaji. Para guru yang tegabung dalam National Education Union (NEU) itu menyebut pemerintah tidak menghargai pekerjaan mereka.
“Kami tidak ingin melakukan pemogokan. Tetapi pemerintah telah menghancurkan pendidikan dan tidak menghargai kami atau pekerjaan yang kami lakukan,” kata serikat pekerja NEU dalam postingan media sosialnya.
Aksi mogok mengajar ini muncul saat serikat telah menyepakati dua hal pascapertemuan mereka dengan pemerintah 17 Juni lalu. Namun, Kementerian Pendidikan Inggris urung untuk memulai kembali negosiasi karena Badan Peninjauan Guru Sekolah belum mengeluarkan rekomendasi seputar gaji.
“Sekretaris pendidikan menolak untuk memasuki kembali negosiasi dengan alasan bahwa ia dan Departemennya sedang menunggu rekomendasi dari Badan Peninjauan Guru Sekolah tentang gaji,” kata Mary Bousted dan Kevin Courtney, Sekretaris Jenderal NEU, yang dilansir Anadolu.
Secara total, NEU telah melakukan mogok mengajar selama lima hari sepanjang tahun 2023. Demonstrasi Rabu menjadi hari ketujuh dari aksi mogok mengajar yang dilakukan guru yang berada di bawah naungan NEU.
Pemimpin serikat telah memperingatkan bahwa mereka akan melanjutkan aksi mogok mengajar di musim gugur jika perselisihan gaji tidak segera diselesaikan.
“Jika pemerintah mengubah pendekatannya, mungkin saja akan ada serangan (demonstrasi) lebih lanjut di musim gugur,” ungkap Sekretaris Jenderal Asosiasi pimpinan sekolah dan perguruan tinggi Inggris, Geoff Barton, kepada The Independent.
Akibat pemogokan ini, para siswa Inggris dan orang tua mengalami gangguan dalam proses belajar-mengajar. Kegiatan-kegiatan sekolah seperti olahraga, studi tour hingga hari transisi terganggu akibat demonstrasi ini.
Selama demonstrasi ini, Kementerian Pendidikan mencatat, 50 persen sekolah di Inggris tetap beraktivitas seperti biasa dengan membatasi kehadiran guru. Sementara sekolah yang menutup seluruh kegiatan mencapai 5 persen. [Mohamad Deny Irawan]

























