Bucharest, Gontornews — Presiden Rumania Klaus Iohannis menuntut Perdana Menteri (PM) Viorica Dancila mengundurkan diri karena berencana memindahkan kedutaan negara itu di Israel ke Yerusalem.
“Nyonya Dancila tidak bisa mengelola kantor Perdana Menteri Rumania dan mengubah Pemerintah Rumania menjadi rentan,” kata Iohannis dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat (27/4).
“Jadi, saya secara terbuka meminta pengunduran diri Nyonya Dancila dari kantor Perdana Menteri,” ujarnya seperti dikutip Aljazeera.
Sebelumnya pada hari Jumat, Iohannis memanggil Dancila di kediaman resmi presiden, Istana Cotroceni. Namun, menurut Romania Journal, dia menolak bertemu dengan presiden.
Iohannis telah mengeluh bahwa Dancila gagal berkonsultasi dengannya mengenai “memorandum rahasia tentang kebijakan luar negeri” yang melanggar konstitusi negara.
“Konstitusi mengharuskan, semua keputusan untuk kepentingan Rumania, harus melalui konsultasi institusional antara Perdana Menteri dan Presiden,” katanya.
Menurut laporan, “memorandum rahasia” itu mencakup rencana untuk memindahkan kedutaan Rumania dari Tel Aviv ke Yerusalem.
Pada hari Kamis, Iohannis mengharapkan penjelasan dari Dancila mengenai kunjungannya ke Israel, yang katanya tidak memiliki mandat dari kepresidenan.
“Saya belum pernah mendengar ada Perdana Menteri Rumania pergi berkunjung ke luar negeri dan mengumumkannya larut malam, sebelum pergi, tanpa mengungkapkan agenda, tanpa ada yang tahu apa yang dia lakukan di luar sana,” kata pernyataannya.
“Siapa pun dapat pergi menjadi turis, kapan saja, tetapi ketika yang pergi adalah orang yang memimpin pemerintah, maka lebih banyak yang harus diketahui,” tambah kepala negara.
Iohannis berasal dari partai berhaluan kanan-tengah, sementara pemerintah dipimpin oleh Partai Demokrat Sosial sayap kiri yang berkuasa.
Pada 20 April, pemimpin Sosial Demokrat yang berkuasa Liviu Dragnea mengumumkan bahwa Pemerintah Rumania menyetujui sebuah memorandum untuk memindahkan kedutaannya ke Yerusalem.
Dancila belum mengomentari panggilan presiden itu.
Menurut kantor berita Reuters, Kementerian Luar Negeri Rumania mengatakan memorandum itu adalah awal dari proses konsultasi yang lebih luas.
Kementerian itu menambahkan, posisi Rumania dalam konflik Israel-Palestina “secara tradisional telah seimbang, termasuk secara bilateral mengakui negara Palestina”.
Pada bulan Desember lalu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa pemerintahannya akan mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel dan akan memindahkan kedutaannya ke kota itu.
Pengumuman itu disambut dengan kontroversi dan protes. Rakyat Palestina menilai, Yerusalem merupakan ibukota masa depan negara Palestina.
Setelah pengumuman Trump, negara-negara lain juga mempertimbangkan memindahkan kedutaan mereka ke Yerusalem.
Jika Rumania memutuskan untuk memindahkan kedutaannya ke Yerusalem, negara itu akan menjadi negara Uni Eropa pertama yang melakukannya. [Rusdiono Mukri]





















