Serpong, Gontornews β Anggapan bahwa santri hanya mahir mengaji dan mengkaji kitab kuning sedikit demi sedikit hilang. Terlebih, di era milenial seperti ini, santri dituntut untuk juga melek teknologi dan memiliki profesi di luar kebiasaan santri pada umumnya. Adalah COO Kompasiana, Iskandar Zulkarnaen, yang mengutarakan pandangannya tentang santri di era milenial.
Sebagaimana informasi yang diterima Gontornews.com, Iskandar, yang didaulat menjadi pembicara seminar bertajuk βSantri Digital di Era Milenalβ tersebut, berujar bahwa salah satu ciri khas santri adalah kemauan untuk belajar.
βWawasan itu tentang bagaimana kita memiliki kemauan untuk belajar. Makanya banyak santri yang sekarang berkiprah di banyak profesi, di banyak bidang dan industri,” kata Iskandar dalam Talkshow βSantri Digital di Era Milenialβ di acara International Islamic Education Exhibition (IIEE) atau Pameran Pendidikan Islam Internasional 2017 yang dilaksanakan Direktorat Pedidikan Islam Kemenag di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD Serpong, Tangerang Selatan, Rabu (22/11).
Meski santri melek teknologi dan masuk ke beragam profesi, mereka tetap dianggap santri karena sudah pernah mondok.
βItu hal yang positif,β kata alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo itu. Baginya, tidak ada batasan bagi santri untuk menekuni profesi apapun.
Dalam kesempatan tersebut, Iskandar juga berpesan kepada santri agar dapat memanfaatkan kemajuan teknologi, terutama sosial media dan gadget untuk hal-hal positif dan memperluas wawasan. Dengan benteng moral yang dipelajari selama di pesantren, santri tidak akan terjerumus ke dalam hal-hal negatif dan hal-hal yang dilarang.
βSantri harus punya kebebasan berpikir, berwawasan luas. Tidak terpenjara dalam satu paradigma atau satu cita-cita saja,β ungkapnya.
Iskandar menambahkan, santri harus peduli dan tidak apatis terhadap kondisi sekitar. Dia harus mampu mengapresiasi keragaman dan perbedaan pendapat di dalam masyarakat.
βAnggaplah perbedaan itu sebagai cara untuk akrab terhadap lawan bicara. Saya selalu katakan, kalau kalian banyak bertengkar di FB, berarti kalian gagal memanfaatkan FB sebagai situs pertemanan,β pungkasnya. [Mohamad Deny Irawan]




















