New York, Gontornews — Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengecam dunia untuk pendistribusian vaksin Covid-19 yang tidak adil. Guterres tidak segan menyebut perilaku tersebut sebagai bentuk ‘pencabulan’ dan memberikan nilai ‘F’ dalam Etika.
Maksud dari penggunaan ‘pencabulan’ oleh Guterres merujuk pada ketiadaan standar moral dan kepatutan. Sementara nilai ‘F’ merupakan nilai di bawah nilai terendah di perguruan tinggi ‘E’.
Berbicara dalam pertemuan tahunan para pemimpin dunia di New York, Amerika Serikat, Guterres memaparkan gambaran dari berbagai belahan dunia tentang vaksin kadaluwarsa serta vaksin yang tidak dapat digunakan di tempat sampah sembari mengatakan bahwa situasi ini adalah ‘cerita tentang masa kita.”
Secara khusus, Guterres menyoroti mayoritas negara kaya telah menerima vaksin sementara 90 persen warga Afrika belum menerima satu dosis vaksin.
“Ini adalah dakwaan moral dari keadaan dunia kita. Ini adalah pencabulan. Kami lulus ujian sains. Tetapi kami mendapatkan nilai ‘F’ dalam etika,” ungkap Guterres dalam sidang Majelis Umum PBB, Selasa (21/9/2021), sebagaimana dilansir Channel News Asia.
Para pemimpin dunia kembali ke New York tahun ini setelah mengadakan majelis tahunan secara virtual tahun lalu saat pandemi Covid-19 berkecamuk. Sedangkan tahun ini, 193 negara anggota PBB kembali menyampaikan pidatonya melalui video. Sementara sisanya, telah melakukan perjalanan ke Amerika Serikat untuk mengikuti agenda tahunan PBB tersebut.
Dari 5,7 miliar dosis vaksin yang beredar di seluruh dunia, hanya 2 persen vaksin yang berada di Afrika. Guterres mendorong rencana global untuk memberikan vaksin kepada 70 persen populasi dunia pada paruh pertama tahun depan.
Selain ketidakadilan vaksin, Guterres juga memperingatkan dunia tentang peningkatan ketegangan antara Cina dan Amerika Serikat. Menurutnya, persaingan ekonomoi, perdagangan, keuangan dan teknologi yang ketat juga diikuti dengan strategi militer maupun geo politik yang berbeda.
“Ini adalah resep dari permasalahan. Ini akan jauh lebih sulit untuk memprediksi daripada perang dingin,” tutup Guterres. [Mohamad Deny Irawan]




















