Ankara, Gontornews — Melarikan diri dari serangan rezim al-Assad dan sekutu-sekutunya, setidaknya 12 ribu warga sipil telah dipaksa untuk meninggalkan apa yang seharusnya menjadi zona gencatan senjata di Suriah barat laut. Mereka menuju perbatasan Turki.
Mohamed al-Hallaj, direktur Tim Koordinator Respons, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa rezim Suriah, Rusia, dan kelompok-kelompok teror asing yang didukung Iran telah menyerang pemukiman sipil dalam 24 jam terakhir.
Distrik Marratinnuman, yang terletak di sebelah timur kota Idlib, menghadapi tingkat migrasi tertinggi, dan keluarga yang melarikan diri sangat membutuhkan barang-barang seperti tempat tinggal, selimut, tempat tidur, dan tenda, tambahnya.
Sebanyak 110 ribu warga sipil telah dipaksa untuk meninggalkan Idlib sejak November karena serangan intensif, Al-Hallaj menggarisbawahi.
“Warga sipil, kebanyakan dari mereka anak-anak dan perempuan, mencari perlindungan di bawah pohon zaitun,” katanya.
Dia menyebutkan, rezim sengaja menyerang sekolah, rumah sakit, masjid, dan pusat pertahanan sipil untuk mencegah warga sipil kembali ke rumah.
Serangan udara pada 2 Desember menghantam dua pasar di Idlib, menewaskan 14 warga sipil.
Serangan rezim dan jet tempur Rusia pada 15 Desember menyebabkan 19 warga sipil tewas. Satu anak tewas dan tujuh orang terluka.
Keesokan harinya, pada 16 Desember, serangan udara Rusia merenggut lima nyawa warga sipil di Idlib, termasuk tiga anak dan dua wanita.
Menurut pemerintah setempat, Idlib adalah rumah bagi sekitar 2,4 juta penduduk setempat dan 1,3 juta orang terlantar. Jika agresi oleh rezim dan sekutu-sekutunya berlanjut, baik Turki maupun negara-negara Eropa akan kebanjiran pengungsi.
Sejak Moskow dan Ankara mencapai kesepakatan pada September 2018 di mana tindakan agresi di Idlib seharusnya dilarang, lebih dari 1.300 warga sipil telah terbunuh di zona eskalasi Idlib. Lebih dari satu juta warga Suriah telah bergerak di dekat perbatasan Turki setelah serangan hebat.
Sejak meletusnya perang saudara berdarah di Suriah pada tahun 2011, Turki telah menampung lebih dari 3,7 juta warga Suriah yang melarikan diri dari negara mereka, menjadikan Turki sebagai negara yang paling banyak menampung pengungsi di dunia. [RM]




















