Arbil, Gontornews – Sebuah tembakan roket yang menyasar pangkalan udara di wilayah Kurdistan, Irak, menewaskan seorang kontraktor sipil asing dan melukai lima lainnya, kata koalisi pimpinan AS, dikutip Hurriyetdailynews.com.
Serangan pada 15 Februari itu merupakan pertama kalinya dalam hampir dua bulan sejak serangan instalasi militer atau diplomatik Barat di Irak.
Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken menyerukan penyelidikan dan berjanji untuk “meminta pertanggungjawaban mereka yang berbuat.”
“Sejumlah kontraktor Amerika tampaknya terluka,” tambahnya, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Mantan Presiden AS Donald Trump telah mengancam bahwa pembunuhan seorang warga negara Amerika dalam serangan roket seperti itu akan memicu serangan pemboman massal di Irak.
Sumber keamanan Irak dan Barat mengatakan kepada AFP bahwa setidaknya tiga roket ditembakkan ke arah bandara kota itu, lokasi pasukan asing ditempatkan sebagai bagian dari aliansi internasional yang memerangi ISIS.
Jurubicara Koalisi Kolonel Wayne Marotto mengonfirmasi kepada AFP bahwa kontraktor yang tewas itu bukan warga Irak. Tetapi ia tidak dapat memberikan rincian langsung tentang kewarganegaraan korban.
Sejak Irak menyatakan kemenangan melawan ISIS pada akhir 2017, jumlah tentara koalisi telah dikurangi menjadi kurang dari 3.500 orang. Sebanyak 2.500 di antaranya orang Amerika.
Sebagian besar terkonsentrasi di kompleks militer di bandara Arbil, kata sumber koalisi kepada AFP.
Serangan itu diklaim oleh kelompok yang menamakan dirinya “Awliyaa al-Dam” atau “Penjaga Darah”.
Sekitar selusin kelompok semacam itu muncul dalam setahun terakhir dan mengklaim serangan roket, tetapi pejabat keamanan AS dan Irak mengatakan kepada AFP bahwa mereka yakin serangan itu dilakukan oleh faksi pro-Iran terkemuka termasuk Kataeb Hezbollah dan Asaib Ahl al-Haq.
Dua roket lainnya menghantam lingkungan perumahan di pinggiran Arbil.
Delovan Jalal, kepala direktorat kesehatan Arbil, mengatakan kepada AFP sedikitnya lima warga sipil terluka dan satu dalam kondisi kritis.
Kementerian dalam negeri wilayah Kurdistan mengonfirmasi “beberapa roket” telah menghantam kota itu dan mengatakan badan-badan keamanan telah meluncurkan “penyelidikan rinci”, mendesak warga sipil untuk tinggal di rumah sampai pemberitahuan lebih lanjut.
Setelah serangan itu, pasukan keamanan dikerahkan di sekitar bandara dan helikopter terdengar di pinggiran kota, kata seorang koresponden AFP.
Presiden Irak Barham Saleh mentweet bahwa serangan itu menandai “eskalasi berbahaya dan tindakan kriminal teroris”.
Masrour Barzani, perdana menteri wilayah otonom Kurdi, mengutuk serangan itu.
Dua sumber intelijen mengonfirmasi kepada AFP bahwa serangan itu dilakukan dari dalam wilayah otonom Kurdi.
Situs militer dan diplomatik Barat telah menjadi sasaran puluhan roket dan bom pinggir jalan sejak akhir 2019, yang menewaskan personel asing dan Irak.
Pada Desember 2019, seorang kontraktor AS tewas dalam serangan roket di sebuah pangkalan di Provinsi Kirkuk, mendorong AS untuk menanggapi dengan serangan udara terhadap Kataeb Hezbollah.
Pada Maret 2020, serangan roket lain menewaskan dua orang Amerika – seorang tentara dan seorang kontraktor – dan seorang tentara Inggris.
Pada bulan Oktober, AS mengancam akan menutup kedutaan besarnya di Baghdad kecuali serangan itu dihentikan.
Pemerintah Irak memfasilitasi gencatan senjata yang tidak terbatas dengan kelompok garis keras.
Tetapi ada pelanggaran, yang terbaru adalah semburan roket yang menargetkan kedutaan AS pada 20 Desember.
Arbil sangat jarang menjadi sasaran, meskipun pasukan Iran menembakkan rudal di bandara yang sama pada Januari 2020, beberapa hari setelah Washington membunuh jenderal utama Qasem Soleimani di bandara Baghdad. []



















